Kisah pendek, padat makna. Film Panglima Tanpa Kepala adalah bukti, kisah sejarah bisa difilmkan tanpa modal besar.
BANJARMASIN – Gelaran akbar Aruh Film Kalimantan 2019 dibuka dengan penayangan ‘Panglima Tanpa Kepala’, Jum’at (13/12/2019) malam di sebuah tongkang mengapung depan Balai Kota Banjarmasin. Karya terbaru dari Bias Film ini mulanya mengajak mengenang tokoh heroik Banua, Demang Lehman. Ada kejutan dalam alur penokohannya.
Film Panglima Tanpa Kepala disutradarai Anggi Pradana Perkasa. Cuma ada tiga tokoh utama di dalamnya. Masing-masing bergejolak dalam pertentangan batin.
Demang Lehman, pemberontak pemerintah Hindia Belanda yang mengakhiri hidup di tiang gantungan tentu saja yang utama. Tokoh ini lah yang jelas ingin disebut sebagai pahlawan tanpa kepala. Kisah berakhir dalam adegan eksekusi.
Residen JM Verspijk sebagai kaki tangan resmi kerajaan belanda ditampilkan penuh amarah karena ambisinya terus dihalang-halangi pemberontak yang diantaranya adalah Idies alias Solehman atau lebih terkenal sebagai Demang Lehman. Saking muaknya dengan ulah Idies itu, jadilah ia ingin eksekusi Demang Lehman sekaligus sebagai pelajaran bagi masyarakat Banjar saat itu.
“Begitu bedug di mesjid berbunyi, saat itulah Demang Lehman digantung,” kata Verspijk yang diperankan Syahriel M Noer.
Itu ternyata mendapat penolakan dari sejumlah pihak. Tidak terkecuali dengan tokoh Syarief Hamid yang selalu dinarasikan sebagai dalang tertangkapnya Demang Lehman ke tangan pemerintah Hindia Belanda.
Dengan singkat, dialog tiga tokoh itu membawa penonton untuk mengikuti pergelokan-pergolakan yang ada. Karakter Syarif Hamid agaknya mendapat perhatian lebih. Pergolakan batin tokoh ini seolah menjadi tema utama dalam cerita yang difilmkan.
Anggi mengaku, Panglima Tanpa Kepala adalah adaptasi naskah drama H Adjim Arijadi yang berjudul Demang Lehman. Salah satu naskah lakon terbaik Banua ini digarap ulang Anggi dengan tambahan-tambahan hasil riset Bias Film terhadap narasi sejarah Demang Lehman. Meski tak keliatan jelas apa hasil risetnya. Hanya teks-teks bantuan penanda tahun dan kejadian.
Dengan durasi film yang amat singkat itu, Anggi melakukan pemotongan banyak adegan dalam versi naskah drama H Adjim Arijadi. Karakter-karakter karangan Bapak Teater Modern Kalimantan Selatan itu pun banyak yang ditiadakan dalam film. Anggi hanya berpusat pada tiga tokoh utama saja.
Bumbu konflik batin Syarif Hamid yang digambarkan Anggi sejatinya adalah salah satu bagian dalam babakan drama karangan H Adjim Arijadi. Pemusatan Anggi akhirnya membelokkan peran utama. Demang Lehman hanya jadi tokoh yang menguatkan latar untuk konflik cerita.
Selain itu, pencapaian artistik Anggi juga tertuju pada Demang Lehman. Meskipun Syarif Hamid mencuri popularitas saat Demang Lehman ingin dieksekusi mati saat bedug magrib berbunyi.
Panglima Tanpa Kepala tak keluar sedikit pun dari frame naskah drama Demang Lehman. Hanya media saja yang mengalami adaptasi. Tidak dengan cerita utama, tidak juga pada konflik yang ditawarkan.
Garapan baru tentu selalu menawarkan wacana yang baru. Anggi hanya membuat gaya baru mengenali tokoh Demang Lehman. Dulu nonton pentas drama, kini Anggi menyuguhkan sinema.
Setidaknya Panglima Tanpa Kepala akan jadi pintu gerbang sinema Banua yang bertema sejarah. Apalagi Anggi bertekad akan membuat kisah utuh Demang Lehman atau kisah pahlawan lainnya.
“Kita cuma bisa membuat yang pendek dulu. Yang besar, tenaga dan dana nya pun juga harus besar. Pengen nanti yang lebih luas lagi,” kata Anggi usai pemutaran perdana.
Anggi rendah hati saja. Karya H Adjim Arijadi yang besar tentu tak bisa ditandingi hanya dengan membalik sebelah tangan. Meski demikian, semangat yang dibangun Anggi masih semangat persatuan Indonesia yang dibangun H Adjim Arijadi pada masanya. Hanya saja Anggi menyarankan kita untuk membuka mata lebih luas dalam membaca narasi sejarah.
“Sejarah kita kan masih abu-abu,” katanya.
Anggi mengeluhkan bagaimana narasi sejarah lokal kita masih beragam. Keragaman itu sayangnya masih kabur. Film dengan pendekatan realisme-nya bisa sedikit membuka tabir masalalu.
Soal filmnya yang pendek, Anggi kurang mempersoalkan. Masalah itu baginya adalah pembuktian, bahwa dengan modal sedikit film bertema sejarah bisa diwujudkan.
“Film ini kami garap bahkan hampir tanpa biaya. Peralatan bisa pinjam punya teman-teman,” ucap Anggi.
Menurut Anggi lagi, kesejarahan di Kalimantan Selatan menarik untuk dipoles jadi film. Banyak versi, dan ramai diperbincangkan.
Kisah tentang kepahlawanan Demang Lehman contohnya. Ada sensasi kontraversial karena membuka tanda kalau ada keterlibatan banyak pihak. Siapa yang menolong penangkapannya? Begitu juga pendukung eksekusi matinya? Bagaimana pengalaman batin setiap yang terlibat dalam kisah itu?
Demang Lehman ditangkap dengan tipuan. Imbalan bagi pemberani beruntung adalah sebesar sepuluh ribu gulden saat itu. Idies ditangkap, perwakilan saksi Belanda dan Pribumi setuju vonis gantung bagi sang patriot.
Anggi mengaku perlu perjuangannya memulai membawa cerita sejarah dalam film lokal dilanjutkan yang lain. Bahkan, kalau bisa dikerjakan secara massal. Mengingat mengulik sejarah jadi film itu asik. Betapa bangganya jika sejarah di sebuah daerah, dikulik masyarakatnya sendiri.
“Urusan benar atau salah, sejarah di kita ini kan masih abu-abu. Macam-macap pendapat soal itu adalah warnanya,” kata Anggi.[]
MAN N
