Editor : Almin Hatta
BANJARBARU – Persiapan menjadi penyangga pangan Ibukota negara yang baru, terus dilakukan Kalimantan Selatan (Kalsel).
Salah satunya adalah menggenjot hasil pertanian. Bahkan, kini Kalsel berencana mengekspor jagung ke luar negeri, khususnya ke beberapa wilayah di Asia Tenggara.
Demikian diungkapkan Ir Syamsir Rahman selaku Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Kalsel saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (26/10/20).
“Kalau potensi jagung ini pemenuhan untuk daerah sudah terlampaui, termasuk untuk menyangga kebutuhan ibukota baru nanti. Nah, selebihnya kemungkinan kita bisa ekspor ke Luar negeri. Tidak usah jauh-jauh, cukup ke Malaysia dan Brunei Darussalam saja dulu,” ungkapnya.
Sebagai informasi, papar Syamsir, Kabupaten Tanah Laut (Tala) menjadi kabupaten penghasil jagung terbesar di Kalimantan Selatan, dengan total 50.000 hektare lahan, dan baru 27.000 hektare yang sudah ditanami.
“Sentral Jagung itu bukan hanya Tala saja, juga ada Kabupaten Banjar, Tapin, Kotabaru, dan beberapa daerah di kawasan Hulu Sungai. Secara keseluruhan Kalsel memiliki 300.000 hektare ladang jagung yang bisa digunakan,” ujarnya.
Syamsir memperkirakan 200.000 hektare ladang jagung yang ditanami itu rata-rata per hektar menghasilkan 5 ton jagung. Maka, jika digabungkan, dapat menghasilkan sekitar 1 juta ton jagung, dan hasil tersebut sebagian dapat diekspor.
“Tetapi ekspor itu tidak bisa serta merta setelah panen langsung digarap. Jagung juga memerlukan pengeringan kadar air,” katanya.
Syamsir juga menegaskan kesiapan daerah menjadi salah satu kunci utama suksesnya kegiatan ekspor jagung ini. “Kita berangan-angan, kapan bisa ekspor, sehingga otomatis harga akan lebih mahal. Kemudian pasar terjamin, dan kesejahteraan petani meningkat,” tandasnya.[]
