Oleh: Almin Hatta
“KAU akan menggantikanku,” orang tua itu berkata lagi, “Dunia penuh dengan orang-orang haus.”
”Haus Tuhan?”
Baha Walad tertawa lemah, giginya gemeletuk oleh dingin. “Satu atau dua, mungkin. Kebanyakan haus akan ini,” dia menggenggam tangan anaknya dan meremas sekuat kekuatannya yang tersisa, tetapi ia letih, dan itu (hanya) terasa lebih keras sedikit dari jabat tangan. “Persahabatan. Cinta. Rasa memiliki. Sebuah akhir untuk rasa sakit.” Ia membiarkan pelupuk matanya tertutup, dan wajahnya tiba-tiba tak bernyawa. “Aku akan tidur sekarang.”
***
Demikianlah percakapan terakhir antara Jalaluddin Rumi dengan ayahnya tercinta Bahauddin Walad yang meninggal dunia pada abad 13 Masehi. Itulah petikan dari sebagian percakapan antara dua orang tokoh yang sama-sama memiliki pengetahuan tentang agama dan kemasyarakatan seluas samudera.
Sesuai pesan terakhir almarhum ayahnya, sebagaimana diceritakan kembali dengan teramat menyentuh oleh Nigel Watts lewat bukunya ‘The Way of Love’, Jalaluddin Rumi kemudian mengembara ke segenap penjuru dunia. Pria yang dilahirkan di Desa Balkh, Afghanistan tahun 1207 ini tak pernah berhenti mendaki gunung menuruni lembah semata untuk memenuhi dahaganya akan kedalaman pengetahuan. Sampai kemudian ia terkenal sebagai ulama, sufi, sekaligus penyair kenamaan.
Tapi, seperti kata Baha Walad di atas, yang haus tidak cuma Jalaluddin seorang. Melainkan hampir semua orang. Hanya saja jenis hausnya berbeda. Kalau Jalaluddin selalu haus akan pengetahuan dan kesejukan Tuhan Penguasa Alam, maka kebanyakan orang haus akan persahabatan, cinta, dan kepemilikan.
Kalau cuma haus persahabatan dan cinta, maka dunia bisa dipastikan damai sentosa. Tapi kebanyakan orang justru haus akan kepemilikan. Padahal kepemilikan teramat luas cakupannya. Bisa haus akan kepemilikan terhadap syahwat, haus terhadap pangkat, dan terutama haus harta. Semuanya membawa akibat sama: saling sikut antarsesama, dan cenderung menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.
Repotnya haus syahwat tak ada obatnya, kecuali tak henti-hentinya melampiaskannya sampai kemudian tak ada lagi bedanya antara hewan dengan manusia.
Haus pangkat pun sama saja, tak pernah membuat seseorang merasa telah tinggi kedudukannya. Soalnya, selalu saja ada orang yang berada di atasnya. Celakanya, pangkat yang bermakna jabatan seringkali membuat orang lupa daratan, sehingga ingin terus mempertahankannya sampai nyawa tercerabut dari badan.
Tapi yang lebih gawat adalah haus akan kepemilikan harta. Sebab, yang namanya harta tak pernah ada batas berapa banyaknya. Semakin direguk, semakin haus pula. Karena itulah tak pernah ada orang yang merasa dirinya telah kaya, meski sebenarnya ia tak mampu lagi menghitung kekayaannya. Ia bahkan lupa apa saja harta yang dimilikinya.***
