Editor : Almin Hatta
BANJARMASIN – Berdasarkan kajian Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), indeks potensi radikalisme di Kalsel tahun 2020 mencapai 10,4 atau masuk kategori waspada menuju aman.
Ketua FKTP Kalsel, Drs Aliansyah Mahadi MAP menyampaikan, potensi radikalisme tersebut paling berbahaya karena dunia dugital maupun media sosial (medsos) mudah dijangkau warga, khususnya anak-anak hingga remaja saat ini.
“Kenapa kita katakan berbahaya, karena anak-anak sekarang cukup akrab dengan medsos, seperti youtube dan lainnya, dan kekhawatiran kita konten di sana ada yang menganut radikalisme,” katanya, Sabtu (26/6/2021).
Untuk penanganan, papar Aliansyah, sejauh ini pihaknya sudah melakukan upaya seperti melakukan komunikasi terhadap guru agama atau penceramah, supaya turut menekan ajaran radikalisme melalui ceramahnya.
Sementara itu, Kabid Pengkajian dan Penelitian FKTP Kalsel, Dr Ir H Muhammad Fauzi MP, menyebutkan, potensi radikalisme dilihat dari tiga dimensi. Yaitu dimensi pemahaman sebanyak 6,1%, dimensi sikap sebanyak 23,7%, dan dimensi tindakan sebanyak 1,3%.
“Artinya, masyarakat yang tidak paham atau sekadar ikut saja cukup tinggi. Indeks potensi radikalisme di Kalsel cenderung lebih tinggi di kalangan rural dan perempuan,” ujarnya.
Indeks potensi radikalisme, lanjut M Fauzi, juga cenderung pada kalangan gen Z, dan mereka yang aktif di internet dan sosial media. Indeks potensi radikalisme cenderung lebih tinggi pada mereka yang terliterasi dan pada mereka yang eksklusif.
“Potret literasi digital di Kalsel menunjukkan 54,4% rendah. Artinya, responden menerima informasi begitu saja, tidak mencari informasi pembanding dan menshare informasi tersebut,” katanya.
Akibat literasi yang masih rendah ini, ungkap M Fauzi, maka konten-konten keagamaan yang terima oleh responden berpotensi memicu provokasi (penistaan agama, ujaran kebencian, dll).
Disebutkannya, internet merupakan alat informasi yang paling banyak digunakan. Ada 73% responden yang mendapatkan informasi dari internet yang terbesar, dengan durasi terlama dalam penggunaan internet adalah generasi Millennial dan Gen Z. 86 % menyatakan menerima informasi keagamaan dari internet.
“Akun sosial media yang paling banyak digunakan adalah Facebook dan Instagram. Sedangkan akun untuk pesan yang paling banyak digunakan adalah Whatsapp dan Facebook Messengers,” ucapnya.[]
