TAMIYANGLAYANG – Kebijakan pemerintah mengubah hari Pasar Beringin Ampah yang tadinya hari Jum’at menjadi Senin, dipertanyakan.
Tak sembarangan, pertanyaan itu muncul dari anggota DPRD Kabupaten Barito Timur (Bartim), Wahyudinnoor SP MP, selaku wakil rakyat yang berasal dari Dapil Kecamatan Dusun Tengah.
“Perubahan hari Pasar Beringin Ampah di Kecamatan Dusun Tengah ini perlu diteliti kembali apa kajiannya. Sebab, ini bukan hanya faktor ekonomi saja. Tapi juga kajian sosial dan budayanya,” katanya kepada Maknanews, Jum’at (7/1/2022).
Wahyudinnoor mengungkapkan, Pasar Beringin Ampah ini sejak dulu digelar pada hari Jum’at. Namun sekarang tiba-tiba diubah menjadi hari Senin.
“Kebijakan perubahan hari pasar ini perlu diteliti dengan cermat. Kajiannya tentu bukan hanya faktor ekonomi saja. Tapi juga kajian sosial dan budayanya. Saya kira hal ini perlu diperhatikan oleh pemerintah atau dinas terkait, sehingga menjadi ketenteraman bagi masyarakat, khususnya para pedagang,” ujarnya.
Ketua DPC PKB Bartim tersebut menyebutkan, ketika hari pasar berubah, maka otomatis hari-hari dan kegiatan pasar yang lainnya akan terganggu.
“Sebab, rotasi hari pasar ini sudah berjalan berpuluh-puluh tahun. Misalkan hari ini di Ampah, besoknya di Patas, lusanya di daerah Muara Teweh, Tanjung, dan seterusnya. Termasuk untuk pasar Tamiang Layang,” ucapnya.
Menurut Wahyudinnor, alasan perubahan hari pasar ini mungkin karena banyaknya pegawai yang berkeliaran pada hari tertentu. Namun alasan tersebut dinilai tidak tepat.
“Sebab, selama ini sudah ada petugas yang melakukan pengawasan, ada Satpol PP. Itu aja saja yang ditertibkan,” tegasnya.
Wahyudinnor menuturkan, hari pasar ini sebenarnya adalah sebuah kearifan lokal yang memang perlu kita pertahankan.
“Bukankah di kota-kota besar, bahkan di Jakarta ada Pasar Senin, ada Pasar Minggu, ada Pasar Rebo (Rabu). Kalau di Kalua ada Pasar Arba (Rabu). Demikian juga di daerah Amuntai, ada pasar Kamis, Selasa,” ucapnya.
Hari pasar mingguan, papar Wahyudinnor, memang selalu ada. Jadi alasan faktor kepadatan misalnya, sebenarnya hanya alasan saja.
“Intinya, kita tidak tahu ini apa yang menjadi persoalan utamanya. Tapi, yang pasti, itulah fungsi dari instansi terkait, seperti Dinas Perhubungan, Satpol PP, dan Dinas Perdagangan. Jadi, tolong koordinasikan itu, tanpa harus kita mengubah hari pasarnya,” tandasnya.
Wahyudinnor mengingatkan, kita harus fokus kepada objeknya, bahwa di pasar juga ada kesempatan para penarik becak, penarik gerobak, ada yang punya lahan parkir yang bisa dimanfaatkan. Juga ada para pedagang sayur yang datang dari jauh, sehingga kesempatannya untuk berdagang ke pasar ya pada hari pasar mingguan.
“Hari pasar itulah kesempatan mereka untuk menjual hasil dagangannya dengan cepat, karena di sini penjualannya sistem partai. Termasuk juga para pedagang lokal. Mereka berkesempatan membeli barang lainnya. Ada pembeli yang dari jauh itu kan lebih besar dengan langganannya yang dari jauh mengambil barangnya pada hari pasar itu,” ungkapnya.
“Apalagi kami sebagai wakil rakyat berasal dari Dapil Ampah ini. Oleh karena itu, kami berusaha supaya ini bisa diselesaikan dengan baik,” tuntasnya.[]
Editor : Almin Hatta
