TAMIYANGLAYANG – Puluhan petani plasma sawit yang tergabung dalam Koperasi Bartim Sawit Sejahtera (BSS), didampingi aktivis dari Perkumpulan Pemuda Dayak (Perpedayak), melakukan aksi demo menutup jalan perkebunan milik PT Sawit Graha Manunggal (SGM), Selasa (31/5/2022).
Aksi puluhan petani plasma ini dikawal oleh puluhan polisi dari Polres Barito Timur (Bartim). Aksi digelar di wilayah perkebunan PT SGM di Desa Luwau Jawuk, Kecamatan Paku, Bartim.
Tuntutan yang disampaikan dengan aksi pemortalan akses jalan tersebut adalah: pihak Managemen PT SGM melakukan mediasi, mencari titik permasalahan dengan mendengarkan tuntutan yang disampaikan masyarakat.
Adapun tuntutan yang disampaikan kepada PT SGM tercatat sebagai berikut:
- Manajemen PT SGM jangan merekayasa dan memaksa pengurus lama Koperasi BSS yang telah berakhir periode kepengurusan dan dipilih tidak sesuai ketentuan, untuk tetap menjadi pengurus. Pemilihan pengurus baru koperasi harus melalui Rapat Anggota sesuai dengan aturan, yakni UU Nomor 25 Tahun 1992, Permenkop UKM RI Nomor 19 PERMEN.KUKM/IX/2015, dan surat Nota Penjelasan Dinas Perdagangan Koperasi Dan UKM Kabupaten Barito Timur Nomor: 973/124 Disdagkopukm.III/2022 Tanggal 27 April 2022 Perihal Penjelasan tentang Rapat Koperasi dan Kepengurusan Koperasi Bartim Sawit Sejahtera (BSS).
- Pihak manajemen PT SGM menjelaskan secara benar dan transparan terkait hal sebagai berikut:
– Jumlah plafon kredit petani plasma.
– Lama masa kredit petani.
– Jumlah angsuran kredit yang sudah dibayar petani.
– Jumlah potongan angsuran kredit petani per bulan.
– Jumlah pendapatan petani per bulan (pendapatan kotor dan bersih).
– Jumlah biaya operasional pengelolaan kebun plasma petani per bulan.
– Mekanisme pengelolaan dana kredit petani plasma dalam pembangunan kebun, termasuk sistem transfer ke rekening petani plasma.
– Jumlah kebun plasma sawit Tahap I, II, III yang sudah dibangun dan yang belum dibangun.
Usai mediasi, saat diwawancarai awak media, Tabat Nalu selaku Koordinator Aksi yang juga Ketua Kelompok Tani Plasma Sawit Koprasi BBS mengatakan, hasil pertemuan dengan pihak Management PT SGM adalah menyepakati melakukan pertemuan pada 6 Juni 2022 mendatang.
“Mereka sudah sepakat untuk tanggal 6 nanti terjawab, dan kalau tidak ada kejelasan atau kepuasan dari masyarakat petani plasma, maka akan melakukan aksi sampai tuntutan kita terjawab,” ucap Tabat.
Tabat juga menjelaskan, selama ini pihaknya tidak mendapat jawaban atas tuntutan yang disampaikan, dan tidak dijelaskan secara transparan oleh pihak managemen.
Kelompok petani di seluruh Bartim berjumlah 22 kelompok Tani khusus plasma PT SGM. Semua menuntut hak-haknya.
“Harapan kami, agar masyarakat Bartim sejahtera. Itu saja,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakan Tabat, sesuai yang telah mereka janjikan dulu ketika masuk ke Bartim, pihak PT SGM berjanji untuk mensejahterakan masyarakat Bartim melalui plasma.
Namun, lanjut Tabat, sampai sejauh ini para petani justru tidak tahu di mana letak plasma tersebut.
“Mereka tidak menunjukkan letak plasma itu. Tidak ada yang jelas plasma sawit ini berjalan sejak tahun 2008 tahap satu, dan 2009 tahap kedua, dan untuk tahap ketiga dari tahun 2013-2016. Namun sampai saat ini tidak ada kejelasan dari pihak manajemen PT SGM,” bebernya.
Sementara itu, Management PT SGM kepada awak media menjelaskan, pihaknya menerima tuntutan masyarakat dan mencapai kesepakatan untuk menindaklanjuti pada waktu yang ditentukan.
“Terkait tuntutan yang disampaikan oleh beberapa perwakilan masyarakat, pada dasarnya tuntutan yang mereka sampaikan kita sanggupi. Dalam artian nantinya akan dilaksanakan rapat anggota yang dilaksanakan oleh pengurus ataupun anggota koperasi sendiri, dan melakukan pemilihan di internal petani koperasi sendiri,” terang Rico selaku Humas PT SGM.
Menurut Rico, pihak manajemen tidak ada mengintervensi pihak mana pun. Namun diharapkan, agar pemilihan yang nanti dilaksanakan tidak membawa kepentingan oknum-oknum tertentu.
“Yang kita bawa adalah kepentingan masyarakat, kepentingan orang banyak, dan membawa kebaikan bersama untuk masyarakat petani. Sehingga bisa tetap berkolaborasi dalam artian bergandengan tangan yang baik antara management dengan pihak petani dan koperasi,” harapnya.
Rico menyebutkan, dalam pertemuan sudah ada kesepakatan. Terkait transparansi, pihak Managemen nantinya akan mnjelaskan terkait pembiayaan dan hasilnya.
“Saya rasa masyarakat Bartim cukup tertib dan mau diajak bergandengan tangan, untuk menuju kebaikan semuanya, untuk kebaikan bersama,” tuntasnya.[]
Editor : Almin Hatta
