Oleh: Muhammad Irwan Aprialdy
Teater kampus merupakan suatu wadah berkesenian yang diminati oleh banyak kalangan mahasiswa/i. Dari berbagai latar belakang, mereka belajar cara-cara untuk berakting, mengarahkan, dan mengorganisir suatu pementasan teater, baik untuk keperluan acara kampus, kompetisi hingga pentas tunggal. Satu yang cukup menarik dari berbagai kalangan teater kampus yang menjamur saat ini: Mereka memiliki ideologi, semangat, dan perspektif berbeda dalam merespons dunia sekitar dalam bentuk medium kesenian. Hal ini, apabila dipandang dengan kacamata positif, mestinya memberi kesegaran dan corak alternatif baru dalam ekosistem kesenian di mana pun mereka berada.
Teater Himasindo adalah satu dari sekian banyak organisasi teater kampus yang ada di Kalimantan Selatan. Organisasi teater kampus yang telah berdiri selama lebih dari dua dekade ini merupakan wadah yang diperuntukkan bagi para mahasiswa/i FKIP ULM Banjarmasin yang tertarik mendalami dunia kesenian panggung. Setelah lama vakum, Teater Himasindo kembali menggelar pentas tunggal pada hari Minggu tanggal 3 Maret 2024. Pentas tunggal ini menampilkan pagelaran naskah “Bukan Rumah” karya Elli Siah Asmayani dan disutradarai oleh Astridienna. Seperti pentas tunggal yang biasanya digelar oleh organisasi teater umum maupun kampus, Teater Himasindo melaksanakan pentas tunggal kali ini untuk menjalankan program kerja yang diorganisir dan dimainkan oleh para anggota baru. Sebagaimana anggota yang baru merangkak ke medan perteateran, tentunya akan ada konsultasi dan campur tangan para pendahulu untuk memastikan bahwa pentas tunggal kali ini memang layak digelar di bawah bendera organisasi yang dikenal dan telah dikibarkan bertahun-tahun.
“Bukan Rumah” dibuka dengan adegan kreatif yang menampilkan seluruh pemain yang berlalu lalang di sebuah ruang utama rumah. Pencahayaan merah serba redup menyelimuti seisi panggung sampai akhirnya lampu mati. Selanjutnya, adegan beralih ke sosok siluet seorang wanita bernama Ratna yang bermonolog tentang kebahagiaannya tinggal dan hidup di rumah tersebut bersama suaminya, Arman, dan dua anak gadisnya. Meski sempat terganggu dengan teknis pengeras suara yang gagal membangun suasana di awal pementasan, vokal prima dari pemeran Ratna cukup menyelamatkan adegan tersebut.
Cerita bergulir dengan keseharian yang bisa dikatakan monoton dan tanpa bumbu apapun. Penonton akan dibuat bingung dengan konflik sebenarnya yang coba dikulik dari tiap adegan percakapan Ratna dan Arman, pertengkaran kecil dua anak gadis, hingga vas bunga yang kerap kali jatuh dari sebuah bidang kecil yang menyala kemerahan. Selama sekitar 30 menit awal penonton barangkali masih mengira-ngira, apa yang sebenarnya hendak dibicarakan dalam “Bukan Rumah”.
Titik terang mulai muncul ketika ayah Ratna, Pak Suparni, muncul bersama dengan seorang wanita asing. Dari gelagat Pak Suparni dan wanita asing yang ikut bersamanya, muncul tanda tanya besar yang diharapkan akan segera terjawab terkait desakan si Ayah pada anaknya untuk segera meninggalkan rumah tersebut.
Muncul berbagai spekulasi. Terlebih wanita muda yang membersamai si Ayah tampak mengelilingi ruang utama dengan mencurigakan dan gelagat yang kaku.
Keanehan demi keanehan mulai muncul: Ada tulah yang tak boleh dilanggar; seorang ayah yang mencoba menyelamatkan anaknya; suami yang geram karena istrinya tidak menuruti perintahnya; Ratna yang beberapa kali sempat menuruni panggung untuk mencari sang ayah; serta kematian. Motif bertebaran. Hingga pentas selesai dengan tangisan, teriakan, dan hehambur pencahayaan merah redup, pertanyaan-pertanyaan masih belum terjawab. Khususnya mengenai pesan yang coba disampaikan.
Ada beberapa hal yang sempat diasumsikan terkait pesan yang ingin disampaikan dalam “Bukan Rumah”. Pertama, kehidupan rumah tangga akan mengungkung sang Istri, terlebih apabila suami bertindak semaunya. Kedua, kehidupan kita sangat dekat dengan hal-hal yang berbau mistik sehingga kita jangan mudah tertipu oleh muslihat-muslihat gaib tersebut. Hingga eksekusi naskah berakhir, cukup disayangkan, pesan kedualah yang menurut saya lebih banyak mendominasi. Padahal, saya mengharapkan pementasan kali ini membuat penontonnya mulai mempertanyakan sistem pembagian peran dalam kehidupan berumah tangga dan menitikberatkan pada fungsi utama pria dan wanita di dalamnya. Atau, kepentingan dari campur tangan orang tua dalam kehidupan berumah tangga anak-anaknya. Saya rasa hal tersebut lebih riil untuk diangkat, ketimbang membicarakan perihal keluarga gaib yang akarnya bisa jadi bersumber pada gangguan-gangguan psikis atau legenda yang berkembang di masyarakat. Namun, hal itu buyar dengan kehadiran dua wanita asing yang bertindak seperti dua dukun yang mencoba menyelamatkan Ratna dari cengkeraman keluarga gaibnya. Sampai saya menulis saat ini, jujur, saya masih belum yakin dengan tebakan saya sendiri mengenai konflik sebenarnya di dalam “Bukan Rumah”, karena barangkali, penulis maupun sutradara juga tidak bertujuan untuk membicarakan sesuatu secara spesifik dan bulat dalam pementasan ini.
Kebingungan atas konflik, pesan, dan narasi dalam “Bukan Rumah” ditunjang pula oleh vokal para pemain yang timbul tenggelam sepanjang pementasan. Hal itu juga semakin dimobilisasi dengan penataan artistik dengan center panggung yang jaraknya agak jauh dari penonton, meja bunga yang kerap menyala kemerahan, dan fungsi pembatas sebagai dinding yang kerap dilanggar. Tidak ada dimensi yang jelas dibangun dari segi ruang dalam keputusan gerak para aktor dalam batas-batas panggung. Hal ini juga menyebabkan kebingungan mengenai konsep waktu. Apakah kesengajaan untuk menegaskan ruang dan waktu yang rancu dalam sebuah dimensi gaib? Apabila ya, maka, eksekusinya terkesan tanggung dan tak terukur.
Hal serupa juga terjadi dengan pencahayaan yang terlalu redup dan musik yang masih menggunakan musik latar rekaman. Padahal, apabila kesan mistis ingin ditampilkan, tidak perlu sampai meminimalisir pencahayaan panggung agar mimik para aktor/aktrisnya dapat dinikmati oleh penonton. Terkait musik, agak disayangkan penggunaan musik hidup tidak dimaksimalkan dengan jumlah pemain yang lumayan banyak terlihat di pinggir panggung.
Singkatnya, pementasan ini membuahkan banyak kebingungan dan aduan yang tak tersampaikan terkait motif, pesan, dan teknis yang membuat penonton mengisi sendiri titik-titik kosong pementasan dengan asumsi dan imajinasi masing-masing. Apabila saya memposisikan diri sebagai seseorang yang ingin membawa sesuatu seusai menonton pementasan, maka, sebagai pemain dan penulis naskah teater, saya berpesan untuk diri saya sendiri untuk percaya pada keajegan kisah yang membawa amanat yang pasti melalui struktur dan logika alur yang harus dibaca, dipertanyakan, dan diperbaiki lagi, sebelum ditampilkan.
Kembali Ke “Dasar”
Saya percaya, pementasan teater yang baik didasari oleh proses latihan-latihan yang bersandar pada hal-hal dasar yang sudah dikhatamkan tidak dengan terburu-buru. Dalam artian lain, apabila ia adalah seorang aktor/aktris, maka, mereka harus terus mengingat bahwa latihan olah tubuh, vokal, sukma, dan observasi atas akting orang lain itu baik untuk dilakukan. Apabila ia penulis, ia harus terus membaca, menganalisis, berlatih, dan tumbuh bersama kritik dan masukan. Demikian pula dengan sutradara, penata artistik, penata musik, panggung, dan lainnya. Apa yang menjadi dasar? Pembelajaran yang tak terputus, penghargaan penuh pada proses, kerja kolektif yang baik, dan keingintahuan yang dipecahkan.
Meski secara keseluruhan “Bukan Rumah” telah selesai dipentaskan sebagai satu pementasan teater, namun, bukan berarti ia telah tuntas dari penilaian penonton sebagai karya seni. Menjadi catatan untuk seluruh yang terlibat di dalamnya untuk tetap meletakkan dasar-dasar yang saya sebutkan pada paragraf sebelumnya. Tentu hal tersebut bukan mandat atau perintah atau anjuran untuk mengekang kreativitas. Alih-alih, ia harus jadi pembakar semangat, mengingat para anggota baru yang tergabung masih memiliki banyak waktu dan difasilitasi dengan teknologi yang mumpuni untuk mengumpulkan sumber-sumber yang bisa memantik pementasan yang lebih bernas lagi.
Saya percaya pada ajakan para seniman kontemporer bahwa panggung bisa menjadi laboratorium atau ruang eksperimen yang baik, mengenai manusia, budaya, kesenian dan sistem-sistem yang bekerja dalam kemanusiaan itu sendiri. Namun, jangan lupa, eksperimen atau upaya menjadikan panggung teater sebagai laboratorium seni juga harus didasari teori dan latar belakang yang kuat agar tidak menjadikan eksekusi dan kesimpulan di dalamnya menyiratkan keengganan mengurai kompleksitas proses dan ilmu pengetahuan seni itu sendiri.
