Beberapa tahun lalu, punya sepeda dan menanam kangkung di halaman mungkin cuma dianggap hobi. Tapi sekarang? Dua hal itu bisa jadi simbol dari sesuatu yang lebih dalam: kesadaran soal hidup yang lebih sehat, lebih lambat, dan lebih ramah lingkungan.
Di Kalimantan Selatan, terutama di Banjarmasin dan Banjarbaru, tren ini makin terasa. Di tengah kota yang bertumbuh cepat, semakin banyak anak muda memilih melambat — bukan karena malas, tapi karena ingin hidup lebih sadar.
—
🌿 Dari Halaman Belakang ke Gaya Hidup Baru
Kenalan dulu dengan Rafi Rahman (27), warga Banjarbaru yang sehari-hari bekerja sebagai staf desain di sebuah kantor swasta. Di sela jam kerja, dia rajin menyiram tanaman bayam dan kangkung di kebun kecil samping rumahnya.
> “Awalnya cuma buat iseng. Tapi lama-lama jadi kebiasaan. Sekarang, tiap panen sayur sendiri rasanya puas, nggak perlu ke pasar buat belanja daun bawang,” ujarnya sambil terkekeh.
Rafi bukan satu-satunya. Komunitas Tandur Warga Banjarbaru, yang aktif di media sosial, kini punya lebih dari 1.000 anggota. Mereka rutin berbagi cara bertani di lahan sempit, dari pakai ember bekas sampai sistem hidroponik rumahan.
—
🚲 Sepedaan Jadi Pilihan Warga Kota Sungai
Sementara itu, di pusat kota Banjarmasin, bersepeda kini jadi gaya hidup yang makin populer. Salah satunya dijalani oleh Amira Lestari (33), guru sekolah dasar yang sudah dua tahun rutin ke sekolah naik sepeda.
> “Setiap pagi saya menyusuri jalan pinggir sungai pakai sepeda. Selain bikin badan sehat, saya juga bisa hemat bensin, dan nggak stres di jalan,” katanya.
Menurut Amira, sekolah tempatnya bekerja bahkan memberi insentif kecil untuk guru dan siswa yang datang dengan kendaraan non-motor. “Nggak besar, tapi cukup untuk memotivasi,” tambahnya.
—
♻️ Tren, Gaya-Gayaan, atau Awal Kesadaran?
Tentu saja, tak semua orang langsung paham soal makna gaya hidup berkelanjutan. Beberapa masih menganggapnya sekadar tren kota besar atau gaya anak sosial media.
Tapi bagi Wahyu Saputra (29), aktivis lingkungan dari Barito Kuala, tren itu justru bisa jadi gerbang masuk menuju perubahan.
> “Mau mulai dari ikut-ikutan pun nggak masalah. Dari situ biasanya orang mulai sadar. Dan kalau sudah sadar, mereka akan lebih peduli dengan pilihan-pilihan sehari-hari mereka,” jelasnya.
Wahyu aktif mengedukasi warga desa soal pengelolaan sampah rumah tangga dan pentingnya mengurangi plastik sekali pakai. Dia percaya perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil.
—
🌍 Dari KalSel untuk Bumi
Memang, membawa tumbler sendiri ke warung atau nanam cabai di pot bekas nggak akan langsung menyelamatkan dunia. Tapi kalau itu dilakukan oleh ribuan orang — dari Martapura sampai Marabahan — dampaknya bisa sangat nyata.
Di tengah krisis iklim dan kerusakan lingkungan, mungkin yang paling berani adalah mereka yang memilih hidup lebih sederhana. Di Kalimantan Selatan, pilihan itu mulai jadi gaya — dan mudah-mudahan, jadi budaya.
