Lorong Klinik Utama Setara siang itu terasa hening. Sabtu (20/9), seorang lelaki tua berusia 80 tahun berjalan pelan, dituntun dua anaknya. Namanya Atim, warga Desa Sungai Tunjang, Barito Kuala.
Sudah lebih dari setahun, dunia di matanya tertutup kabut katarak. “Sakit… serasa tertutup kabut,” ujarnya lirih.
Ini bukan operasi pertamanya. Pada 2019, mata kanan Atim pernah dioperasi lewat program pemerintah. Kini giliran mata kirinya yang harus ditangani. Keluarga sempat kesulitan mencari bantuan, hingga akhirnya program CSR PT Adaro Indonesia datang membawa harapan.
“Alhamdulillah ada dari Adaro, kami sangat bersyukur,” ucap anaknya.
Proses operasi memang tak nyaman, tapi Atim memilih bertahan. Begitu selesai, lensa keruh yang menutup penglihatan diganti dengan lensa baru. Tinggal menunggu waktu, ia berharap bisa kembali menatap dunia tanpa bayangan.
Tak jauh dari Atim, Mahrita, petani 60 tahun dari Kecamatan Tamban, baru saja keluar dari ruang operasi. Lima bulan terakhir, matanya kabur hingga sulit mengolah sawah. “Rasanya kabur, kemudian periksa, katanya katarak,” kisahnya.
Kini, dengan mata kanan yang kembali terang, ia berharap bisa turun ke sawah lagi. “Sebagai petani, penglihatan itu modal utama,” ujarnya.
Kisah Atim dan Mahrita hanyalah dua dari ribuan cerita yang lahir lewat program “Satu Cahaya Berjuta Cerita”. Sejak 2003, lebih dari 7.000 mata telah dioperasi. Tahun ini, PT Adaro Indonesia kembali melaksanakan operasi katarak gratis untuk 480 pasien di enam kabupaten operasional, termasuk 35 orang di Barito Kuala.
Aan Nurhadi, perwakilan CSR PT Adaro Indonesia, menyebut tujuan program ini sederhana: mengembalikan produktivitas masyarakat. “Kami ingin masyarakat tetap sehat, mandiri, dan sejahtera,” katanya.
Yang membuat program ini istimewa, operasi dilakukan dengan mobil katarak khusus—hanya ada dua di Indonesia, di Bali dan Kalimantan Selatan. Sistem “jemput bola” ini memudahkan masyarakat di daerah terpencil mendapat layanan kesehatan yang layak.
Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Diauddin, menyebut katarak sebagai penyebab kebutaan terbesar di Indonesia. “Buta bukan hanya soal kesehatan, tapi juga sosial dan ekonomi. Dengan kolaborasi ini, kita bisa menurunkan angka kebutaan,” ujarnya.
Bupati Barito Kuala, Bahrul Ilmi, pun mengapresiasi. “Penglihatan sangat penting. Operasi katarak ini gagasan yang sangat baik. Memberikan yang terbaik adalah doa,” katanya.
Bagi Atim, cahaya itu kini kembali. Bagi Mahrita, mata yang terang berarti bisa kembali mengolah sawah. Dari tangan tenaga medis, dukungan pemerintah, dan kepedulian perusahaan, lahirlah satu cahaya yang menumbuhkan sejuta cerita.[]
