Bendungan Tampa: Potensi Besar yang Dibiarkan “Tidur” di Tengah Barito Timur

Diposting pada

TAMIANG LAYANG – Di Kecamatan Paku, Kabupaten Barito Timur, berdiri sebuah infrastruktur yang seharusnya menjadi simpul pertumbuhan ekonomi baru. Namun hingga kini, Bendungan Tampa masih lebih banyak menjadi lanskap sunyi ketimbang pusat aktivitas.

Di atas kertas, fungsi bendungan ini jelas: pengendali banjir dan penyedia air irigasi. Tetapi di lapangan, ia menyimpan potensi yang jauh melampaui itu—wisata alam, pertanian produktif, hingga perikanan air tawar. Masalahnya, potensi itu belum benar-benar disentuh secara serius.

Hamparan air yang luas berpadu dengan bentang sawah di sekelilingnya menciptakan panorama yang sulit diabaikan. Saat pagi dan senja, lanskap ini menghadirkan pemandangan yang secara visual layak dijual sebagai destinasi wisata. Namun keindahan itu berhenti pada tahap “alamiah”—belum dikemas, belum dikelola, dan belum dipasarkan.

Ketiadaan infrastruktur menjadi persoalan mendasar. Akses jalan menuju lokasi masih terbatas, fasilitas dasar seperti area parkir, tempat istirahat, hingga sanitasi belum tersedia. Dalam kondisi seperti ini, sulit berharap kawasan tersebut berkembang menjadi destinasi yang layak dikunjungi secara massal.

Padahal, jika dirancang dengan pendekatan yang tepat, Bendungan Tampa bisa dikembangkan menjadi kawasan wisata berbasis alam—mulai dari rekreasi keluarga, spot fotografi, hingga ekowisata dan camping ground. Potensi itu ada, tetapi belum menjadi prioritas pembangunan.

Di sektor pertanian, irigasi dari bendungan telah memberi dampak nyata terhadap kesuburan lahan. Namun pemanfaatannya masih belum optimal. Pola tanam sebagian besar masih bergantung pada musim, padahal ketersediaan air memungkinkan intensifikasi hingga dua atau tiga kali panen dalam setahun.

Lebih jauh lagi, peluang pengembangan agrowisata nyaris belum tersentuh. Padahal kombinasi antara lanskap sawah, aktivitas pertanian, dan kehidupan pedesaan memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi wisata berbasis pengalaman.

Situasi serupa juga terlihat di sektor perikanan. Perairan bendungan menyimpan potensi ikan air tawar yang melimpah. Aktivitas memancing memang sudah ada, tetapi masih bersifat sporadis dan belum terkelola.

Belum terlihat adanya upaya serius untuk mengembangkan budidaya berbasis teknologi seperti keramba jaring apung atau kawasan perikanan terpadu. Padahal, jika dikelola dengan sistematis, sektor ini dapat menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Bendungan Tampa pada dasarnya adalah paket lengkap: air, lahan, dan lanskap. Tiga elemen yang, jika disinergikan, dapat membentuk ekosistem ekonomi berbasis lokal yang kuat. Namun hingga kini, ketiganya masih berjalan sendiri-sendiri tanpa arah pengembangan yang jelas.

Di titik ini, persoalannya bukan lagi soal potensi, melainkan soal kebijakan dan keberanian mengelola. Tanpa intervensi yang terencana—mulai dari infrastruktur, regulasi, hingga pemberdayaan masyarakat—kawasan ini berisiko terus berada dalam status yang sama: ada, tetapi tidak berkembang.

Bendungan Tampa bukan kekurangan potensi. Ia hanya kekurangan perhatian.

Dan selama itu belum berubah, “permata” ini akan tetap terkubur di tempatnya sendiri.