Menuju Budaya Baru

Diposting pada

Mendadak penduduk bumi menjadi kelimpungan setelah dengan tiba-tiba sebuah makhluk mikro kosmik datang mengenfeksi jutaan orang tak pandang bulu, suku atau belahan bumi manapun. Tidak berselang lama kemudian wabah ini dianggap sebagai pandemic karena secara membabibuta ada di setiap sudut bumi ini. Mulai dari negeri superior sampai negara berkembang terkena imbasnya. Beberapa negeri bahkan mengambil kebijakan melakukan lockdown yang membuat tidak ada yang bisa masuk atau keluar negeri itu dengan alasan apapun.

 

Indonesia menjadi salah satu atau bagian besar yang masyarakatnya terensfeksi virus covid-19 ini. Sejak tulisan ini dibuat sudah 17.514 orang positif terpapar virus covid-19. Namun disisi lain pasiennya yang berhasil sembuh juga mengalami lonjakan yang signifikan.

 

Pandemi ini tidak sekedar urusan sakit dan sembuh namun juga membuat masyarakat dan pengambil kebijakan (pemerintah) bersikap. Sikap jelas yang diambil kemudian adalah melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Masyarakat dibatasi untuk saling bertemu secara langsung, melakukan aktifitas yang menyebabkan adanya perkumpulan massa, bahkan untuk urusan beribadah secara massal.

 

Kebijakan-kebijakan yang dilakukan hampir di seluruh belahan bumi manapun ini kemudian tanpa sadar membentuk sebuah budaya baru yang terintegrasi dalam sistem digitalisasi. Masyarakat benar-benar diajak bermigrasi dalam bermacam aplikasi yang menghubungkan mereka secara social.

 

Praktik pindah ruang ini sebenarnya sudah berlangsung lama. Hanya saja setelah pandemic ini muncul kita baru benar-benar merasa karena sekarang sama sekali tidak bisa bertemu langsung. Berbagai aplikasi percakapan, video call, dan pengabaran aktiftas sudah berlangsung lama baik melalu facebook, instagram, youtube, whatssapp, dan yang terbaru adalah zoom.

 

Segala aktifitas kita akhirnya cukup mudah diketahui melalui laman-laman tersebut, jika ingin berkomunikasi juga sudah tak perlu selalu bertemu karena mudahnya akses digital saat ini dengan media tersebut. Perubahan tersebut memaksa kita untuk sedikit lebih terbuka mengambarkan berbagai hal (walaupun ini masih pilihan) namun cepat atau lambat kehidupan private kita hanya akan menjadi sebuah jejak budaya lama yang telah berubah.

 

Bayangan-bayangan saintifik yang hanya tergambar di film-film akhir-akhirnya mulai bermunculan dan menunggu pemutakhirannya saja. Kita akhirnya tidak sekedar sebagai subjeknya namun lebih banyak akan menjadi objek-objek perubahan tersebut.

 

Jejak-jejak budaya baru ini bisa kita lihat dari perubahan pola hidup masyarakat kita sendiri. Budaya gotong royong yang notabene-nya merupakan pola hidup yang fisik sekali kemudian berubah menjadi budaya yang individualis dan independen.

 

Masyarakat berusaha membangun kehidupannya sendiri dengan tanpa atau mengurangi bantuan orang lain. Lingkup terkecil seperti rumah kemudian dianggap sebagai ruang paling memungkinkan untuk saling bantu. Meskipun hal semacam ini bisa saja kembali bergeser pasca hilangnya wabah virus ini.

 

Pasar sendiri sebagai objek vital pertukaran uang dan barang juga mulai memasuki perubahan. Itu dibuktikan dengan bermunculannya e-commerce yang menggunakan e-money sehingga membuat aktifitas masyarakat benar-benar hanya dalam rumah.

 

Kewajiban-kewajiban masyarakat seperti bekerja juga mulai dikurangi dengan beberapa ruang kerja tertentu yang mewajibkan bekerja dari rumah. Demikian halnya dengan pendidikan, basisnya saat wabah ini muncul belajar mengajar dilakukan secara daring dari rumah masing-masing.

 

Perilaku berkarya seniman juga berubah, banyak kemudian yang mulai memindah ruangkan karya-karyanya dengan berbasis ditonton secara tidak langsung. Perilaku ini juga memunculkan budaya apresiasi baru bagi para penonton.

 

Pada nyatanya memang saat ini masih banyak yang merasa bahwa menonton secara langsung jauh lebih baik karena mampu memberi nuansa khusus dan eksklusif. Tapi perubahan ruang ini lambat laun juga akan menumbuhkan pola menonton yang lebih baru, apalagi dengan bantuan tekhnologi mutakhir kedepannya.

 

Tulisan ini menjadi awal penyadaran kita semua bahwa saat bahkan pasca wabah ini tidak ada lagi budaya baru ini benar-benar nyata. Kita telah menjalaninya satu decade terakhir secara tidak sadar melalui media-media yang saling terkoneksi satu sama lain.

 

Pada kenyatannya juga ruang-ruang kumpul tidak akan seperti dulu lagi. Sikap kepraktisan era modern benar-benar akan memanjakan kita semua untuk beraktifitas hanya dari ruang terkecil kita masing-masing.

 

Penyadaran akan adanya gelombang besar perubahan sosial budaya ini menjadi penting agar proses adaptasinya tidak menyebabkan ketimpangan-ketimpangan pada semua sendi kehidupan kita. Semoga segala hal yang baik segera datang, mengubur asumsi-asumsi pesimistis dan ketakuatan yang bergentayangan akhir-akhir ini.

 

 

 

Novyandi Saputra (Direktur artistic NSA PM), Banjarbaru, 18 april 2020