Banjir HST Terkait Erat dengan Pembabatan HutanBanjir HST Terkait Erat dengan Pembabatan Hutan

Banjir HST Terkait Erat dengan Pembabatan Hutan

Diposting pada

Editor : Almin Hatta

BARABAI – Dampak banjir besar yang melanda Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) beberapa waktu lalu, telah menyebabkan kerusakan berbagai fasilitas, dan mendatangkan kerugian yang tak sedikit bagi masyarakat.

Menurut data yang ada, banjir tersebut melanda 10 kecamatan, 76 desa, dan berdampak terhadap 28.820 KK dengan total 88.825 jiwa. Bahkan ada 10 orang dinyatakan meninggal dunia.

Kemudian, lahan pertanian yang terdampak seluas  11.231 hektare dengan 5.000 hektare tanaman padi puso. Sebanyak 17 ruas jalan sepanjang 50.168 meter rusak, rumah ibadah terdampak sebanyak 117 buah, sekolah 130 buah, kantor 79 buah, jembatan 62 buah, pasar rusak berat 1buah , rusak ringan 2 buah, rumah hilang 191 buah, rumah rusak 2.298buah, rumah terendam 15.489 buah. 

Pertanyaannya adalah, apa sesungguhnya penyebab terjadinya bencana banjir yang sedemikian dahsyat ini? 

Beberapa waktu lalu, seorang pejabat penting di Barabai (Ibukota HST), melakukan perjalanan ke kawasan Datar Ajab, untuk melakukan pengecekan lokasi desa dan dusun terisolasi di kawasan Pegunungan Meratus tersebut.

Apa yang dilihat secara langsung oleh pejabat tersebut diceritakannya dalam acara Rapat Koordinasi (Rakor) Evaluasi Dampak Banjir di Aula Setda HST, 25 Januari 2021 lalu. 

“Sewaktu berada di Datar Ajab, kami  berdiskusi dengan sejumlah tokoh adat Pegunungan Meratus. Kami  bertanya kepada tokoh-tokoh tersebut mengenai penyebab banjir besar yang baru saja melanda sejumlah wilayah di Kabupaten HST,” katanya, memulai cerita.

Ternyata, lanjut pejabat tersebut, para tokoh adat Pegunungan Meratus secara tegas mengatakan bahwa penyebab banjir besar tersebut adalah karena terlalu banyaknya penebangan pohon, terlalu banyak hutan yang telah dibabat.

Seberapa banyak pohon yang ditebang atau seberapa luas sudah hutan yang hilang?

Info yang didapat dari Kadis DPLH HST menyebutkan, selama 3 tahun terakhir (2017-2020), dari hasil pendataan citra setelit (KLHK) tutupan hutan wilayah HST berkurang sekitar 23%.

Kalau apa yang disampaikan tokoh adat tadi dipadukan dengan data KLHK yang didapat dari citra setelit, maka terlihat nyata benang merah penyebab banjir di HST. Yakni berkurangnya kawasan hutan karena aksi penebangan pohon yang tidak terkendali. 

Dan informasi tambahan, di beberapa kecamatan ada usaha pengolahan kayu rakyat yang jumlahnya puluhan buah. Sedangkan sumber bahan kayu didapat dari wilayah pegunungan di sekitar Kecamatan Hantakan.

Terkait izin pengolahan kayu tersebut, setelah diserahkan ke KP2T sejak tahun 2017, sampai hari ini kabarnya tidak ada satu pun yang memiliki Izin Pengolahan Kayu Rakyat (IPKR). 

Dari catatan seorang pengamat lingkungan yang tergabung dalam Gerakan Penyelamat Bumi Murakata (GEMBUK), disebutkan, dapat kita tarik kesimpulan bahwa terjadinya banjir besar di Kabupaten HST, khususnya yang parah di beberapa kecamatan, tidak menutup kemungkinan disebabkan telah berkurangnya tutupan lahan di kawasan hutan.

“Berkurangnya tutupan hutan itu disebabkan ulah para pelaku illegal loging. Dan solusi yang diharapkan adalah adanya penegakan hukum untuk perusak hutan tanpa pandang bulu,” tegasnya.[]