Rezeki Pengundang PetakaRezeki Pengundang Petaka

Rezeki Pengundang Petaka

Diposting pada

Oleh Almin Hatta

 

PADA hari-hari terakhir Ramadhan biasanya banyak orang kaya memenuhi kewajibannya membayar zakat atas limpahan harta yang dititipkan Tuhan kepadanya. 

 

Kenyataan ini tentu saja patut disyukuri. Sebab, dengan demikian, para orang kaya itu telah mensyukuri nikmat kekayaan yang diberikan Tuhan kepadanya, dan menyadari sepenuhnya bahwa pada sebagian hartanya ada hak orang tak berpunya.    

 

Ibarat pepatah ada gula ada semut, maka rumah orang-orang kaya pun di hari-hari terakhir Ramadhan biasanya didatangi banyak orang yang mengaku papa. Entah miskin benaran, entah miskin pura-pura, sebab kita tak mungkin tahu keadaan mereka yang sebenarnya.

 

Lagi pula, memang selalu ada orang-orang yang pura-pura kaya karena tak ingin dilihat tak berpunya. Sebaliknya, tak sedikit pula orang yang sebenarnya cukup berada justru menista dirinya sendiri dengan pura-pura papa.  

 

Nah, sore di hari terakhir Ramadhan tahun lalu, pintu rumahku tiba-tiba diketuk orang sambil berseru, “Zakatnya Ji…. Pak Haji, zakatnya…” 

 

Aku pun segera keluar untuk membukakan pintu. Tapi, begitu melihat siapa yang datang “menagih” zakat tersebut, aku jadi terkesima. Soalnya, sosok yang menadahkan tangan di depan pintu rumahku itu adalah dua pemuda gondrong dengan anting-anting. Sialnya lagi, kedua pemuda itu sama-sama merokok, padahal waktu berbuka puasa masih sekitar dua jam lagi.    

 

Jelas sekali mereka bukanlah orang yang berhak menerima zakat, sedekah, atau pemberian apa pun. Sebab, selain muda belia dan gagah, keduanya sama sekali tak mengindahkan perintah Allah. Lagi pula, yang namanya zakat bukan diminta apalagi “ditagih”, melainkan ditunggu saja. Sebab, zakat atau sedekah bukanlah utang-piutang, melainkan pemberian dengan sepenuh keikhlasan orang yang bersangkutan. 

 

Bahwa zakat itu hukumnya wajib adalah urusan orang yang bersangkutan dengan Tuhan Penguasa Kekayaan, bukan urusan si kaya yang wajib zakat dengan si miskin yang berhak menerima zakat.  

 

Aku pun memutuskan tak memberi apa pun kepada dua pemuda itu. Maka, dengan bahasa seramah-ramahnya, aku menolak permintaan mereka. Untunglah mereka mau mengerti, dan kemudian pergi meski dengan wajah penuh dengki.     

 

Kejadian tersebut kemudian mengingatkanku pada kisah Nabi Musa as, sebagaimana diceritakan Ali Sadaqat dalam bukunya berjudul Yeksad Maudhu. Disebutkan, suatu hari Nabi Musa as menyaksikan seorang fakir tidur di atas tanah padang pasir tanpa baju tanpa alas. 

 

Ketika Musa mendekatinya, si fakir itu pun meminta. “Wahai Musa, mohonkanlah kepada Tuhan agar memberiku sedikit rezeki yang dapat membebaskan aku dari kemiskinan ini.”

 

Nabi Musa pun segera memohon kepada Allah agar meluluskan pinta si fakir yang merana. Usai berdoa, Musa melanjutkan perjalanan ke gunung untuk bermunajat kepada Allah SWT.

 

Beberapa hari kemudian Musa kembali melewati padang pasing yang sama, dan ia mendapati si fakir tempo hari dalam keadaan terikat dikelilingi banyak orang. Musa bertanya, “Apa yang terjadi dengan si fakir ini?”

 

“Baru saja dia mendapatkan uang, langsung dibelikannya arak dan minum hingga mabuk. Lalu, dalam keadaan mabuk ia melakukan pembunuhan terhadap seseorang. Karena itu kami menangkapnya untuk kemudian dihukum gantung,” kata mereka.

 

Lalu, apa gerangan maknanya? Entahlah. Tapi, yang pasti, tak semua orang siap menerima limpahan rezeki. Dan, seperti kisah si fakir ini, jika salah dalam menyikapi limpahan harta, maka yang terjadi justru malapetaka.***