Pahlawan

Diposting pada

Oleh Almin Hatta

Ingat November, ingat pahlawan. Tapi apakah pahlawan itu? Siapakah pahlawan itu? Apakah semata orang atau mereka yang gugur di medan perang, atau siapa saja yang punya andil besar dalam memperbaiki kualitas kehidupan?

 

DALAM Kamus Umum Bahasa Indonesia, pahlawan berarti: orang yang sangat gagah berani; pejuang yang gagah berani atau yang terkemuka. 

Tak dijelaskan, gagah berani dalam hal apa, berjuang pada medan yang bagaimana, terkemuka pada sektor apa saja? 

Dalam pelajaran di sekolah, pahlawan identik dengan pejuang kemerdekaan yang gugur di medan laga sebagai kesuma bangsa. Lalu, mestikah predikat pahlawan diraih dengan nyawa?  Mestikah pahlawan sama dengan kematian?

Kalau pahlawan berarti maut, artinya gelar pahlawan harus dibayar semahal nyawa yang cuma satu-satunya, maka bisa dipastikan tak akan ada orang yang memimpikannya. Kecuali orang yang benar-benar spesial, orang yang teramat langka seperti Chairil Anwar yang dengan lantang berkata, “Sekali berarti setelah itu Mati!”

Seperti mode dan juga lagu, makna pahlawan pun tergantung zaman. Di zaman perjuangan merebut kemerdekaan, maka pahlawan mau tak mau berarti mereka yang merelakan nyawanya demi terbebasnya bangsa dari belenggu penjajahan. Maka yang populer sebagai pahlawan adalah mereka yang gugur seperti Diponegore, Imam Bonjol, Tjut Njak Dien, Pattimura, atau Antasari. Bukan Bung Karno dan Bung Hatta yang notabene memproklamirkan kemerdekaan itu sendiri.

Di zaman pembangunan, maka yang mestinya menjadi pahlawan adalah seseorang atau sejumlah orang yang memelopori pembangunan pada satu bidang atau sejumlah bidang dengan hasil yang nyata, yang langsung dirasakan rakyat jelata. 

Dulu kita sering mendengar istilah “Bapak Pembangunan” yang kemudian tak jelas statusnya: semacam pahlawan atau sekadar badut pengumbar kebohongan. Sebab, yang pasti, hingga kini negeri tercinta ini masih terpuruk di jurang kesusahan yang teramat dalam. Apa yang disebut pembangunan cuma dirasakan oleh sedikit orang, sedangkan kebanyakan orang justru masih dijajah kemiskinan dan keterbelakangan. Maka, dengan konsisi yang demikian memprihatinkan, siapa pula yang bisa dipahlawankan? 

Belum tuntas soal pembangunan yang putus di tengah jalan, negeri ini dilanda kerusuhan di mana-mana. Perkelahian antarsuku dan bahkan antaragama meminta korban jiwa yang tak terhitung lagi jumlahnya. Maka, dalam kondisi seperti ini, pahlawan yang diagungkan bukanlah mereka yang rela mati membela suku atau agama. Melainkan seseorang atau sejumlah orang yang berani tampil di tengah silang sengketa atas nama bangsa: mendamaikan pertikaian, memadamkan bara permusuhan.

Tapi, siapa gerangan orang atau mereka yang benar-benar berjiwa nasionalis mendahulukan kepentingan bangsa ketimbang etnis, suku, atau agama? Tak ada, setidaknya sejauh ini belum terlihat secara nyata!

Padahal, dengan terus menomorsatukan suku dan etnis ketimbang bangsa, maka tak akan pernah lahir yang namanya Indonesia. Dengan mendahulukan dominasi agama ketimbang kebersamaan sesama umat manusia, maka jangan harap kedamaian merangkul dunia. Dan, tanpa kedamaian, pelaksanaan agama tak akan pernah sempurna.***