Oleh Almin Hatta
ADA satu kebiasaan masyarakat di Kalimantan yang sudah berlangsung sejak lama, dan terus berlanjut hingga sekarang. Yakni melangsungkan pesta perkawinan menjelang tibanya bulan Ramadhan.
Entah apa alasannya. Tapi, yang jelas, menjelang Ramadhan hampir selalu bertepatan dengan usainya panen padi. Dengan demikian, mempelai lelaki cukup uang untuk membayar mahar perkawinan. Sedangkan pihak mempelai wanita cukup persediaan beras untuk melaksanakan pesta yang pantas.
Namun demikian, agaknya, salah satu pertimbangan banyaknya perkawinan menjelang Ramadhan adalah untuk mengambil berkah Ramadhan yang memang dipastikan Tuhan penuh dengan keberkahan.
Itu kalau menurut pertimbangan agama. Sedangkan di sisi lain, Ramadhan juga mengandung banyak pelajaran bagi pasangan yang baru membina rumah tangga. Suasana sahur dan buka puasa bersama bagi pasangan pengantin muda misalnya, tentu merupakan kebahagiaan tiada tara. Membangunkan lelapnya tidur suami untuk makan sahur oleh istri tercinta, adalah kemesraan tersendiri pula.
Lebih dari itu, “penderitaan” lapar dan dahaga selama puasa bagi mereka yang baru berumah tangga adalah pelajaran teramat berharga untuk mengarungi bahtera kehidupan selanjutnya yang penuh ombak dan prahara. Sebab, perjalanan panjang ke depan belum pasti dikucuri materi yang berkecukupan.
Jadi, “kemiskinan” selama Ramadhan adalah ujian untuk menerima rezeki sebagaimana adanya dengan lapang dada. Tak perlu saling menyalahkan, melainkan nikmatilah apa yang sudah dihidangkan walau cuma nasi dan sepiring lalapan. Sebab kenikmatan tidak terletak pada mewahnya hidangan, melainkan tergantung sepenuhnya pada kebersamaan senasib sepenanggungan pasangan yang sudah dibuhul tali perkawinan.
Tentu, pelajaran berharga ini bukan semata untuk pasangan pengantin yang baru mulai mengayuh biduk kehidupan. Melainkan pelajaran bagi kita semua, bagi segenap umat muslim di seluruh penjuru dunia.
Kita semua diajarkan bahwa dalam 12 bulan selama satu tahun ada satu bulan di mana si kaya dan si papa sama-sama harus menderita menahan lapar dan dahaga.
Juga selama satu bulan Ramadhan kita diajarkan bahwa kelezatan makanan tak sepenuhnya tergantung pada jenis hidangannya. Kelezatan makanan ternyata terletak pada manusia yang membutuhkannya. Karena itulah, pada saat berbuka puasa, seteguk air putih terasa nikmat luar biasa.
Begitu pula pada saat makan sahur, kelezatan makanan ternyata tak tergantung pada kemewahan hidangan. Melainkan sepenuhnya terpulang kepada selera makan pada tengah malam yang sulit dibangkitkan. Karenanya, pada sahur ini gulai ayam atau semur daging kerap diabaikan, dan tak sedikit orang yang justru makan sangat lahap dengan lauk ikan asin goreng asam.***
