Ada ‘Taman Budaya Seadanya’ di Google Maps, Ini Tanggapan Kepala Taman Budaya Kalsel 

Diposting pada

BANJARMASIN – Nama UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan, Jalan Brigjen H Hasan Basri Banjarmasin di Google Maps berubah menjadi “Taman Budaya Seadanya”, Kamis (7/7).

Hal tersebut mencuat di jagat maya. Banyak warga, khususnya kalangan pegiat seni, menayangkan tangkapan layar ponselnya terkait perubahan nama ini di sosial media.

Berdasarkan penelusuran Maknanews.com, perubahan nama tersebut ditengarai diawali oleh unggahan akun instagram komunitas teater @matahariteater yang sebelumnya menyinggung fasilitas dan pelayanan UPTD Taman Budaya Kalsel.

“Sungguh miris Taman Budaya Kalsel ini. Penyewa melaporkan toilet mati dan air mati, tapi jawabannya “MAAF PAKE AJA SEADANYA”. Baru kali ini ditemukan, sebuah institusi tidak mampu mengayomi masyarakatnya untuk cerdas. Maaf saya tidak lagi bisa membendung keprihatinan ini,” tulis akun tersebut di unggahannya.

Sutradara Teater Matahari Edi Sutardi membenarkan unggahan tersebut. Namun, soal “Taman Budaya Seadanya” dia sendiri kurang mengetahui.

Teater Matahari, Senin (4/7) lalu, menggelar pertunjukkan di Gedung Balairung Sari Taman Budaya Kalsel. 

Edi mengakui, beberapa keluhan soal fasilitas dan pelayanan tersebut memang dia temui saat itu. 

Selain fasilitas toilet di lingkungan Taman Budaya Kalsel yang tidak berfungsi dengan baik, saat melakukan persiapan, pihaknya juga menemui air yang tergenang hingga masuk dalam gedung pertunjukkan. Saat itu, sebagian wilayah Banjarmasin memang tergenang akibat curah hujan tinggi dan air pasang.

“Genangannya sampai 18 cm,” kata Edi.

Menanggapi hal itu, Kepala Taman Budaya Kalsel Suharyanti menyadari adanya kekurangan dalam sejumlah fasilitas tersebut.

“Gedung Balairung Sari memang bangunan lama kok,” ujarnya.

Diungkapkannya, perbaikan fasilitas di Taman Budaya Kalsel sudah direncanakan sejak 2020 lalu. Namun menurutnya, pandemi covid-19 mengakibatkan pengalihan anggaran selama dua tahun.

Meski begitu, tambah Suharyanti, program pemeliharaan akan dilakukan melalui anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) pada Maret 2022. Lagi-lagi, hal itu tertunda lagi.

“Ada kesalahan aplikasi di Bakeuda yang membuat rehab gedung itu belum bisa dilakukan pada bulan Maret tapi di bulan Oktober,” katanya.[]