Perang Israel–Iran: Harga Minyak Naik, Indonesia Harus Siaga

Diposting pada

Ketegangan militer antara Israel dan Iran mulai menyeret efek domino ke seluruh dunia. Yang paling terasa? Harga minyak mentah global yang melonjak, dan Indonesia—sebagai salah satu negara pengimpor energi—tak bisa bersikap biasa-biasa saja.

Setelah rentetan serangan balasan sejak awal Juni 2025, harga minyak Brent merangkak naik hingga menyentuh kisaran US$ 75 per barel. Kenaikan ini tentu bukan kabar baik, terutama bagi Indonesia yang masih sangat tergantung pada impor minyak untuk kebutuhan energi dalam negeri.

Kenaikan harga minyak dunia berarti satu hal: beban subsidi energi di Indonesia akan ikut membengkak. Pemerintah sebenarnya sudah mengalokasikan anggaran besar untuk subsidi BBM, LPG, dan listrik. Tapi, dengan lonjakan harga di pasar global, angka itu bisa saja jebol sewaktu-waktu.

Selain subsidi, tekanan lain datang dari nilai tukar rupiah yang ikut terguncang. Semakin mahal biaya impor, semakin berat pula APBN menanggungnya. Efek berantai seperti inflasi, naiknya harga kebutuhan pokok, hingga turunnya daya beli masyarakat bisa jadi tak terhindarkan.

Situasi ini bikin pemerintah harus bergerak cepat dan cerdas. Ketahanan energi tak lagi bisa ditunda jadi wacana. Transisi ke energi terbarukan, penguatan cadangan minyak nasional, serta efisiensi distribusi jadi strategi yang mulai digerakkan. Semua langkah ini penting untuk menjaga stabilitas ekonomi jika konflik Israel–Iran terus berlarut.

Yang perlu diingat, jika harga minyak dunia tembus US$ 100 per barel akibat gangguan jalur distribusi global seperti Selat Hormuz, Indonesia harus siap dengan skenario terburuk. Termasuk kemungkinan penyesuaian harga BBM bersubsidi—sesuatu yang pasti tak populer, tapi bisa jadi langkah rasional.

Dalam pusaran konflik global, Indonesia memang bukan pemain utama. Tapi sebagai negara yang terhubung dengan ekonomi dunia, kita tetap harus bersiap. Menjaga energi tetap mengalir dan harga tetap terkendali adalah bagian dari upaya menjaga kehidupan tetap berjalan normal di tengah dunia yang terus bergolak.