Di tengah dunia yang makin bising, sibuk, dan penuh tekanan, banyak orang mulai sadar: mereka butuh ruang. Tapi bukan ruang dalam bentuk tempat piknik, hotel staycation, atau liburan ke luar kota. Ruang ini letaknya lebih dekat—di dalam kepala, di hati, atau di sudut rumah yang kita isi dengan tenang.
Tren ini diam-diam muncul di antara rutinitas yang makin padat. Di TikTok dan Instagram, muncul konten dengan tagar seperti #RuangSendiri, #MentalSpace, atau #SafeCorner. Isinya macam-macam—dari orang yang bikin pojok membaca di kamar, sampai yang rutin journaling tiap malam hanya untuk “berbicara dengan diri sendiri”. Bukan cari aesthetic, tapi benar-benar untuk bertahan.
“Gue bikin ‘ruang sendiri’ itu bukan tempat fisik aja. Kadang ya pas lagi nyeduh kopi sambil denger lagu lama. Atau pas matiin HP jam 10 malam dan cuma diem,” kata Caca (25), mahasiswa asal Banjarbaru yang mengaku mulai lelah dengan terus-menerus online. “Itu bukan soal ngilang, tapi ngembaliin diri.”
Psikolog klinis dari Yayasan Pulih, Novi Arlinda, menyebut tren ini sebagai respons alami dari generasi muda terhadap overstimulasi. “Banyaknya paparan informasi, sosial media, tuntutan karier, bikin otak kita nggak punya jeda. Ruang mental itu penting untuk menjaga keseimbangan emosi dan identitas.”
Uniknya, banyak yang membangun ruang ini tanpa sadar. Seperti menata ulang sudut kamar dengan lilin aromaterapi, menaruh rak buku di bawah jendela, atau mengganti background playlist ke suara hujan. Tidak perlu mahal. Yang penting terasa seperti “rumah kecil” yang hanya kita yang punya kuncinya.
Di Banjarmasin, ada komunitas daring bernama “Sudut Sendiri” yang rutin berbagi cerita tentang ruang batin mereka. Ada yang menulis puisi tentang pelarian, ada yang berbagi foto suasana kamar mereka yang sederhana tapi bikin damai. “Kami ingin bilang: punya ruang sendiri itu bukan egois, tapi sehat,” tulis salah satu anggotanya.
Fenomena ini mengajarkan satu hal sederhana: kita nggak harus selalu lari jauh untuk merasa pulih. Kadang, dengan mematikan notifikasi, menyeduh teh hangat, dan duduk tenang lima menit tanpa tujuan, itu sudah cukup jadi tempat pulang.
Karena di zaman yang memaksa kita untuk terus bergerak, memilih diam dan kembali ke diri sendiri adalah bentuk keberanian paling pribadi.
