Suara Lama, Rasa Baru: Banyak Anak Muda Mulai Dengar Musik Era 70–90an

Diposting pada

Di tengah era shuffle dan algoritma, musik dari masa lalu justru kembali naik ke permukaan. Vinyl tua diputar ulang. Lagu dari tahun 70-an sampai 90-an masuk playlist harian. Bahkan lirik-lirik lawas yang dulu sempat tenggelam, kini dikutip lagi di kolom caption Instagram.

Bukan karena tren semata, tapi karena ada rasa aman yang aneh dari suara lama. Ada tekstur. Ada jeda. Ada kelembutan yang tidak terburu-buru seperti musik modern sekarang. Anak muda kini tidak cuma mendengar lagu, mereka ‘menyelami’ lagu.

Bersama suara serak Chrisye, denting gitar Deddy Dores, atau paduan suara Erwin Gutawa, ada semacam ruang untuk bernapas. Musik jadi semacam mesin waktu. Beberapa mendengarkannya karena mengenang masa kecil. Beberapa lainnya justru merasa menemukan ‘rumah’ di era yang bahkan belum mereka alami.

Fenomena ini juga terlihat dari naiknya minat koleksi kaset dan vinyl, meningkatnya pemutaran lagu-lagu lama di café, dan semakin banyaknya akun media sosial yang mengkurasi lagu-lagu klasik Indonesia maupun luar negeri.

Generasi yang serba cepat ternyata rindu yang lambat. Mereka mencari suara yang punya cerita, bukan hanya beat catchy. Musik jadul kini menjadi bentuk healing akustik—mengembalikan rasa dalam sunyi, dan membawa nostalgia yang tak harus dialami untuk bisa dimengerti.

Di dunia yang bising, kadang suara lama justru terasa lebih baru.[]