Editor: Almin Hatta
BANJARMASIN – Berawal dari hobi merawat succulent, Usie Puspitasari atau yang akrab dipanggil Usie, memanfaatkan momen work from home (WFH) dengan membuka bisnis succulent bersama temannya Isnenchi Rhamadhani Syarah Ismail.
Succulent sendiri merupakan tanaman yang memiliki bagian yang lebih tebal dan berdaging untuk menyimpan air. Tanaman ini sering digunakan untuk mempercantik isi rumah.
“Dari dulu emang senang merawat succulent, tidak jarang teman-teman biasanya banyak yang nawar buat beli koleksi saya, dan ada juga yang minta carikan tanaman lain. Jadi ya sekalian aja buka bisnis,” tutur Usie.
Usie sendiri merupakan seorang guru. Dia menjelaskan, selama pandemic, karena sekolah dilaksanakan secara daring, dirinya jadi memiliki banyak waktu luang. Hal ini lah yang juga ia manfaatkan untuk membuka bisnis. “Kami baru satu bulan buka bisnis ini. Alhamdulillah pembelinya ramai, walau emang dari eman-teman juga,” ucapnya.
Selama satu bulan ini, Usie dan Isnenchi, sudah bisa meraup keuntungan sampai 75% dengan range harga penjualan 20rb – 45 rb. Tak jarang pembelinya bisa langsung membeli 3-4 tanaman sekaligus.
Meski demikian, karena mereka membeli succulent dari Pulau Jawa yang memakan waktu perjalanan ekspedisi sampai seminggu, beberapa succulent ketika sampai dalam keadaan kurang sehat. Hal ini yang diakuinya mengurangi keuntungan.
“Kadang itu ada yang tanamannya saat masih sama kami sehat, waktu sudah sampai di tangan pembeli beberapa hari kemudian jadi layu,” ungkap Usie.
Layunya succulent bisa disebabkan oleh penyiraman yang kurang atau berlebihan. Bisa juga karena succulent jarang terkena sinar matahari, atau bahkan sebaliknya lantaran terlalu banyak terkena sinar matahari.
Usie dan Isnenchi sejauh ini menceritakan tidak ada rencana untuk membuka toko. Ini disebabkan karena bisnis succulent memang hanya sampingan saja, selama masa pandemi.[]
