Editor: Almin Hatta
BANJARMASIN – Ingat salah satu tempat kuliner pinggir Sungai Martapura yang diberi nama Kawasan Wisata Kuliner Mandiri, tak jauh dari Jembatan Merdeka di pusat Kota Banjarmasin?
Pertama dibuka dulu, kawasan ini langsung ramai. Tapi belakangan berangsur sepi. Dan kini, kawasan tersebut benar-benar sepi. Pengunjung cuma satu dua orang. Ada apa gerangan?
Padahal fasilitas yang disediakan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Banjarmasin sangatlah lengkap. Mulai dari bilik-bilik kedai yang ditata rapi, washtafel, hingga toilet yang sudah tersedia di kawasan ini.
Namun, itu tadi, pengunjung bukan tambah ramai. Justru sebaliknya terus beransur sunyi. Apalagi semenjak badai wabah virus Corona menerpa, kawasan ini pelan-pelan meredup. Bersamaan dengan itu, segala fasilitas yang tadinya kinclong kini terlihat kusam lantaran tak terawat. Belakangan ini sudah tak ada lagi yang menggunakannya.
Kedai-kedai pun satu per satu menutup lapaknya. Yah mau bagaimana lagi, pembeli terus berkurang, sepi, tak ada lagi keuntungan yang bisa diraih.
Tapi, ternyata masih ada beberapa orang yang memilih bertahan. Rusmiati misalnya. Wanita parobaya yang masih sangat bugar ini tetap mempertahankan depotnya, dan terus mencoba berinovasi.
“Awalnya saya cuma membuka satu depot. Karena sepi, saya buka satu lagi untuk jual gorengan. Alhamdulillah, setidaknya dari menjual gorengan pelanggan masih ada yg berdatangan,” ucapnya.
Rusmiati sudah berjualan di kawasan ini sejak 5 tahun silam. Ia mengakui bahwa sejak 2 tahun terakhir, kawasan ini semakin jarang pengunjung. Padahal ia membuka dagangannya sudah sejak pukul 05.30 dan baru tutup pada pukul 21.00.
“Dulu ramai sebab ada musik di depan. Awalnya pendapatan satu hari bisa tembus satu juta. Sekarang makin turun, makin turun, sampai kini hanya sekitar 200 ribu ke bawah,” ujarnya.
Di sisi lain, Rusmiati juga menyayangkan adanya cafe di depan kawasan. Cafe tersebut memanglah selalu ramai, berbanding terbalik dengan KWK Mandiri ini.[]
