Editor : Almin Hatta
BANJARMASIN – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Banjarmasin, soroti serius banjir yang melanda hampir seluruh wilayah Kabupaten/Kota di Kalimantan Selatan (Kalsel).
Menurut Ketua GMNI Banjarmasin, Bayu Hendra Kusuma, banjir yang menimpa sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan ini bukan hanya akibat hujan yang begitu deras dan berhari-hari semata.
“Banjir yang melanda sebagian besar wilayah Kalsel ini, dari 13 Kabupaten/kota, ada 10 Kabupaten/Kota yang terdampak Banjir. Puluhan ribu rumah terendam, dan ada ratusan ribu jiwa lebih yang harus mengungsi. Bahkan 15 orang meninggal dunia akibat banjir ini,” ucapnya.
Menurut Bayu, hal ini tidak bisa dipersalahkan hanya dikarenakan intensitas hujan yang begitu tinggi saja, yang mengakibatkan parah dan meluasnya banjir ini.
Bayu menyebut, ada faktor lain yang membuat banjir di Kalimantan Selatan ini sedemikain parah dan meluas hampir ke seluruh kabupaten/kota yang ada di Kalsel.
“Yaitu kurang berpihaknya setiap kebijakan yang dihadirkan oleh pemerintah daerah terhadap lingkungan,” tegasnya.
Di Kalimantan Selatan, papar Bayu, terjadi eksploitasi lahan yang begitu besar-besaran. Ada sekitar 64.632 hektare lahan sawit, dan 58.043 hektare lahan tambang.
“Jumlah tersebut bisa terus meningkat tiap tahun. Dengan kondisi seperti itu, membuat Kalsel darurat ruang resapan, yang imbasnya menjadi darurat ekologis,” ujarnya.
Pemerintah daerah, lanjut Bayu, usai bencana musibah ini harus melakukan evaluasi besar-besaran terhadap setiap kebijakan yang sudah.
“Untuk ke depan, harus dirancang kebijakan yang berpihak terhadap ekosistem lingkungan secara konkrit. Agar julukan Pulau Kalimantan, khususnya Kalsel, sebagai paru-paru dunia tidak berubah menjadi paru-paru basah,” tutup Bayu.[]
