Ketika Pangeran Tumenggung Memblokade Bahan Pokok: Jalan Buntu Menuju Demak

Diposting pada

Setelah kalah dalam pertempuran pertama di hilir Sungai Barito sekitar awal abad ke-16, Pangeran Tumenggung dari Kerajaan Negara Daha tidak serta-merta menyerah. Meski harus memundurkan pasukannya, ia justru menerapkan strategi lain yang sama berbahayanya: memutus suplai kebutuhan pokok ke Banjarmasin, kerajaan baru yang tengah tumbuh di muara sungai.

Blokade itu menyasar komoditas penting dari pedalaman yang selama ini menjadi sumber logistik utama Banjarmasin. Pasokan beras, ubi, gumbili (singkong), keladi, hingga pisang pun terhambat. Dampaknya, harga bahan-bahan tersebut melonjak drastis dan menyulitkan kehidupan rakyat di wilayah muara.

Sejarawan Kalimantan Selatan, Yusliani Noor, dalam bukunya Islamisasi Banjarmasin (Abad ke-15 sampai ke-19), menjelaskan bahwa daerah pedalaman, terutama di sekitar Sungai Negara, telah memiliki sistem pertanian yang mapan sejak lama. Salah satunya adalah pertanian pasang surut yang konon berasal dari keahlian komunitas Ngaju, jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara.

“Para transmigran Jawa justru belajar kepada orang-orang Banjar dalam hal cara bercocok tanam padi pasang surut,” tulis Yusliani.

Ketegangan yang berlangsung pada sekitar tahun 1520-an ini pun menyebabkan kerugian besar, terutama bagi kerajaan Banjarmasin yang bergantung pada suplai dari hulu. Patih Masih, tokoh sentral di balik kebangkitan Pangeran Samudera, menilai bahwa situasi saling blokade dan pengintaian terus-menerus justru memperpanjang penderitaan rakyat.

Di sisi lain, baik Negara Daha maupun Banjarmasin terus memperkuat armada dan pertahanan. Negara Daha sendiri telah dikenal sebagai kerajaan tua yang kokoh dengan kekuatan pasukan sungainya.

“Kerajaan ini mampu bertahan ratusan tahun dengan pasukan yang cukup kuat,” ungkap Yusliani.

Namun, Banjarmasin tak tinggal diam. Di bawah komando Pangeran Samudera, perahu-perahu pengintai terus disiagakan di sepanjang Sungai Barito untuk mendeteksi gerakan musuh. Dalam suasana tegang ini, diplomasi menjadi satu-satunya harapan untuk memutus kebuntuan.

Patih Masih akhirnya menyarankan Pangeran Samudera untuk mengupayakan bantuan dari luar Kalimantan. Tujuan utama adalah Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa yang pada saat itu tengah berkuasa di bawah Sultan Trenggana (memerintah 1521–1546).

Pangeran Samudera pun mengutus Patih Balit memimpin rombongan ke tanah Jawa. Misi ini dilakukan sekitar pertengahan dekade 1520-an. Harapannya, dukungan dari Sultan Demak dapat membantu menyelesaikan konflik berkepanjangan dengan Negara Daha, sekaligus memperkuat legitimasi kekuasaan Pangeran Samudera di mata dunia Melayu-Islam.

Langkah menuju Demak menjadi titik balik penting dalam sejarah Banjarmasin—bermula dari pemutusan aliran beras dan pisang, menuju kelahiran kekuatan baru yang kelak mengubah peta politik Kalimantan bagian selatan.[]