Pementasan teater Cerita Ini Siapa yang Punya karya Fauzian Anshari, yang dipersembahkan oleh Sindang Langit Art, dipentaskan pada Sabtu, 13 Desember 2025, dalam dua sesi—sore dan malam—di Balairung Sari, Taman Budaya Kalsel. Pertunjukan ini dibuka dengan ketenangan yang nyaris menipu. Berjalan seperti sore hari: hangat, akrab, dan terasa biasa. Dari kursi penonton, cerita tampak siap menjadi potret keseharian—tentang keluarga, tentang pulang kerja, tentang kewajiban yang datang tanpa diundang.
Alya, tokoh utama, pulang membawa lelah. Di rumah, lelah itu segera dibagi-bagikan: gas habis harus diisi, ayah butuh obat, adik kehabisan kuota dan maunya yang 20 GB. Tak ada permintaan yang kejam. Justru itu masalahnya. Semua terdengar wajar, sopan, dan sulit ditolak. Alya menuruti, seperti yang sudah-sudah. Seperti yang akan terus terjadi.
Naskah yang ditulis sekaligus disutradarai Fauzian Anshari jelas ingin berbicara tentang beban menjadi “orang nggak enakan”. Sebuah tema yang dekat, bahkan terlalu dekat, dengan kehidupan sehari-hari.
Upaya membedakan suasana melalui bahasa patut dicatat. Bahasa Banjar digunakan untuk menghadirkan kelenturan dan humor; ia ringan, akrab, dan sesekali mengundang tawa. Namun kelucuannya kerap berhenti sebagai penanda suasana, bukan penggerak konflik. Ia lucu karena diharapkan lucu. Sementara itu, bahasa Indonesia diposisikan sebagai jalur kesedihan dan kedalaman. Di sinilah refleksi Alya ditempatkan, meski sering kali dengan nada deklaratif. Kesedihan diucapkan jelas, tetapi jarang dibiarkan tumbuh liar.
Pemisahan fungsi bahasa ini menciptakan kontras, namun tidak selalu menghasilkan tegangan. Bahasa Banjar dan bahasa Indonesia berjalan berdampingan, jarang saling mengganggu. Padahal, gangguan itulah yang seharusnya melahirkan drama: ketika tawa tersedak, ketika kesedihan terasa terlalu dekat dengan keseharian.
Namun justru di luar dialog, pementasan ini menyisakan kemungkinan makna yang paling menarik.
Pada satu adegan awal, khususnya pada pementasan sore, Alya bersiap berangkat kerja. Ia memasang sepatu, meninggalkan sandalnya di bawah kursi tamu. Adegan berganti. Hari meloncat jauh ke depan. Konflik datang dan pergi. Hingga lampu panggung meredup dan pertunjukan selesai, sandal itu tetap di sana. Bahkan saat para pemain berjabat tangan dengan penonton, ia masih setia berdiam.
Sandal itu tidak pernah disebut. Tidak pernah dipungut. Tidak pernah dipulangkan ke kaki Alya.
Entah disengaja atau tidak—atau barangkali sekadar kebetulan panggung—sandal tersebut dapat dibaca sebagai metafora paling kuat dalam pertunjukan ini. Ia menjadi penanda tentang bagian dari Alya yang ditinggalkan sejak awal—tentang kepemilikan yang pelan-pelan lepas, tentang tubuh yang terus diminta hadir tanpa pernah benar-benar kembali utuh. Di tengah dialog yang gemar menjelaskan, sandal itu memilih diam. Dan justru dalam diamnya, ia berbicara paling keras.
Judul Cerita Ini Siapa yang Punya sejak awal terkesan mengajak penonton untuk melakukan refleksi bersama. Ajakan itu diperkuat ketika Alya secara langsung melontarkan pertanyaan tersebut ke arah penonton, menembus batas panggung dan kursi, seolah meminta mereka ikut memikul persoalan yang sedang dipertontonkan.
Namun, judul Cerita Ini Siapa yang Punya pun kemudian menemukan ironi pahitnya. Pertanyaan itu terdengar besar, nyaris filosofis. Namun jawabannya justru kecil dan konkret. Kalau sandal saja tak pernah kembali ke Alya, barangkali cerita ini pun tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Ia dimiliki oleh kebiasaan, oleh kewajiban, oleh rasa sungkan yang tak pernah diuji sampai batasnya.
Secara keseluruhan, drama ini dilatarbelakangi persoalan sosial-ekonomi yang mengakar. Kewajiban keluarga, kerja yang menyerap energi, dan keterbatasan pilihan hidup membentuk sistem kecil yang menormalisasi kegagalan-kegagalan manusia di dalamnya. Alya tidak runtuh karena tragedi besar, melainkan karena akumulasi hal-hal yang terus dianggap wajar—sebuah kondisi yang terasa relevan dan dekat dengan realitas banyak penonton.
Pementasan ini rapi secara teknis dan jujur secara niat. Tetapi ia kerap terlalu percaya bahwa kejujuran tematik sudah cukup untuk mengguncang. Padahal teater hidup dari risiko—dari kemungkinan gagal, dari pilihan yang menyakitkan, dari sesuatu yang bisa benar-benar hilang.[]
