Banjarmasin — Di tengah tekanan ekonomi global yang kian berat, Solidaritas Masyarakat untuk Keadilan (SMUK) menyerukan agar momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah dimaknai bukan sekadar sebagai perayaan spiritual, melainkan sebagai titik balik kebijakan ekonomi yang lebih berpihak pada keadilan sosial.
Ketua Umum SMUK Ahmad Zaki menilai kondisi ekonomi saat ini menempatkan masyarakat kecil pada posisi yang sangat rentan. Fluktuasi harga minyak mentah dunia yang dipicu konflik di jalur-jalur pasokan utama, ditambah pelemahan rupiah terhadap dolar, telah memukul daya beli masyarakat secara langsung. Inflasi barang impor — kedelai, gandum, hingga pupuk — merambat ke harga kebutuhan pokok. Industri domestik menyesuaikan diri dengan cara yang paling menyakitkan: menaikkan harga, mengurangi volume kemasan, atau mem-PHK karyawan.
“Negara tidak boleh hanya berlindung di balik jargon resiliensi ekonomi makro, sementara di tingkat mikro rakyat menjerit karena daya beli yang ambruk,” tegas Ahmad Zaki.
Atas kondisi itu, SMUK merumuskan tiga rekomendasi kebijakan yang mereka nilai harus segera diambil pemerintah.
Pertama, moratorium sementara proyek strategis nasional yang tidak berdampak langsung pada kebutuhan pokok — termasuk program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih — dan mengalihkan anggarannya menjadi jaring pengaman sosial yang lebih masif serta subsidi pangan dan energi yang tepat sasaran.
Kedua, intervensi pasar untuk menahan pelemahan rupiah: memperketat kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor di dalam negeri, memperluas transaksi mata uang lokal dengan negara mitra dagang, dan memberikan insentif pajak progresif bagi industri yang berhasil mensubstitusi bahan baku impor dengan bahan baku lokal.
Ketiga, reformasi tata kelola pangan dan energi melalui pembangunan lumbung berbasis komunitas di setiap daerah. SMUK mendesak pemerintah menghentikan ketergantungan pada makelar impor dan mengalihkan subsidi langsung kepada petani dan nelayan dalam bentuk pupuk dan bahan bakar murah.
“Jiwa Muharram adalah perlawanan terhadap ketidakadilan. Refleksi spiritual yang sejati adalah bagaimana para pemimpin bangsa ini mampu bermigrasi dari sistem ekonomi yang spekulatif menuju tatanan yang berkeadilan dan benar-benar melindungi seluruh rakyat,” pungkas Ahmad Zaki.[]
