Editor : Almin Hatta
BARABAI – Telah berpulang ke Rahmatullah, ulama besar kecintaan warga masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), KH Ahmad Arsyad, pendiri/pengasuh Pondok Pesantren Putra dan Putri Al-Hikmah di Desa Tabu Darat Hilir, Kecamatan Labuan Amas Selatan (LAS), Kabupaten HST, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), pada hari Sabtu, 29 Mei 2021, sekitar pukul 01:30 Wita di rumah kediaman, dan telah dikebumikan sekitar pukul 16.00 Wita di hari yang sama.
Berpulangnya KH Ahmad Arsyad ini adalah kehilangan teramat besar bagi segenap masyarakat HST, dan menyisakan kesedihan mendalam.
Ustadz Syaifullah, putra KH Ahmad Arsyad, menguraikan secara singkat perjalanan ayahandanya dalam menuntut ilmu dan berdakwah syiar agama Islam, sampai mendirikan pesantren.
Diceritakan, KH Ahmad Arsyad pertama kali menuntut ilmu agama Islam di Kampung Mundar pada Tuan Guru H Nasri. Kemudian berguru kepada Tuan Guru H Mansur di Tubau. “Tuan Guru H Mansur ini lulusan Mesir,” kata Ustadz Syaifullah, Mingu (30/5/2021).
Selanjutnya, papar Ustadz Syaifullah, KH Ahmad Arsyad mendalami kitab kuning, memperluas ilmu agama Islam di Darussalam Martapura.
“Beliau berangkat sendiri ke Martapura, tanpa diantar oleh orangtua. Jaman dulu memang seperti itu, orangtua cukup memberikan dukungan saja untuk melanjutkan sekolah,” ujarnya.
Menurut Ustadz Saifullah, ayahandanya, KH Ahmad Arsyad, berangkats ke Darussalam, Martapura itu pada tahun 1936.
“Kala itu beliau berguru kepada ulama besar Tuan Guru Muhamad Kaysful Anwar. Usia ayahanda waktu itu diperkirakan 17 tahun,” ucapnya.
Setelah dari Martapura, ungkap Istadz Saifullah, KH Ahmad Arsyad melanjutkan menuntut ilmu ke Nagara, berguru kepada Tuan Guru H Ali Bayanan.
“Tuan Guru H Ali Bayanan ini pernah menuntut ilmu agama Islam ke Makkah. Sekarang ini Nagara menjadi Kecamatan Daha. Pada jaman dulu, Nagara itu sempat disebut orang termasuk Serambi Makkah, dan banyak makam-makam ulama di Nagara yang berkeramat. Termasuk makam Tuan Guru H Ali, banyak orang breziarah ke sana,” ujarnya.
Ustaz Saifullah menyebutkan, teman akrab ayahanda KH Ahmad Arsyad saat menuntut ilmu di Nagara antara lain Guru Kasim (Amawang, Kandangan) dan Guru Pamangkih.
“Selesai menuntut ilmu di Nagara, beliau melanjutkan dengan menjalankan dakwah, yang dilakukan siang dan malam dari kampung ke kampung,” katanya.
Ustadz Saifullah mengungkapkan, ayahandanya kala itu pernah ditawari jabatan kewedanaan di wilayah Kandangan.
“Waktu itu baru ada Kupaten Kandangan, sedangkan wilayah Barabai belum jadi kabupaten. Kala itu kehidupan sangat susah. Tapi jabatan semacam Kemenag itu ditolah oleh ayah kami,” ujarnya.
Disebutkan, KH Ahmad Arsyad justru terus melakukan kegiatan dakwah ke pelosok-pelosok, mendatangi masyarakat yang terpencil untuk menyampaikan syiar Islam.
“Kegiatan semacam itu beliau lakukan puluhan tahun, padahal di zaman dulu risiko berdakwah sangat berat,” ujarnya.
Disebutkan, suatu ketika ayahandanya berdakwah di wilayah Kandangan arah ke Loksado. Rupanya ada orang-orang yang kurang senang. Ketika akan pulang, panitia setempat menawarkan untuk mengantar.
“Tapi oleh ayah tawaran itu ditolak. Jika diantar, maka beliau mengatakan tak akan pernah mau lagi datang ke sana. Ayahanda KH Ahmad Arsyad itu ikhlas berdakwah, beliau ikhlas menerima risikonya, meski itu berupa kematian,” ujarnya.
Menurut Ustadz Saifullah, di tempat tinggal ayahandanya, di Desa Tabu Darat Hilir, tidak pernah warga mengadakan hiburan musik secara terbuka (karasmin).
“Sebab, beliau berdakwah di kampung lain, maka pasti kampung sendiri dijaga dari perbuatan masiat yang membawa mudarat,” ujar H Saubari, salah satu warga yang akrab degnan KH Ahmad Arsyad semasa beliau hidup.
Kemudian, papar Ustadz Saifullah, Ayahandanya membangun Pondok Pesantren Al- Hikmah untuk putra, dengan tujuan memotivasi agar ada generasi penerus perjuangan Syiar Agama Islam. Mulanya bangunan pondok tersebut tiangnya batang pohon pinang, dan atap daun rumbia, dinding dari bambu.
“Beberapa tahun kemudian Ayahanda membangun Pondok Pesantren Putri, dan di lingkungan pondok inilah jasad beliau dimakamkan,” katanya.
Ustadz Saifullah menyebutkan, niat utama KH Ahmad Arsyad mendirikan pesantren adalah untuk menampung masyarakat yang ingin menuntut ilmu agama tapi terkendala faktor keuangan.
“Maka dari itu dibangunkanlah tempat anak-anak generasi penerus menuntut ilmu agama Islam secara gratis, tidak membayar ongkos sekolah. Semenjak hidup Ayahanda hanya makan secukupnya dan seadanya. Kebanyakan harta beliau dibelanjakan untuk pembangunan Pondok Pesantren. Pesan terakhir beliau adalah, jaga keutuhan pesantren demi kelancaran umat menuntut ilmu,” tutupnya.[]



