Setiap sesuatu yang pernah dialami, pastilah menjadi kenangan yang tak terlupa dalam kehidupan. Termasuk Mayjen TNI Bakti Agus Fadjari yang masih ingat dengan kue khas Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan, bernama apam dan bubungku.
YUSNI HARDI, Barabai
KEDATANGAN Asisten Teritorial Kepala Staf Angkatan Darat (Aster KSAD) tersebut di Markas Yonif 621/Manuntung, Barabai, Minggu (13/10) siang, seakan mengulang kembali perjalanan karier militernya. Betapa tidak, perwira tinggi dengan dua bintang di pundak ini masih hafal bangunan dan letak ruang-ruang kerja atau barak prajurit di markas Yonif 621/Manuntung.
Mayjen Bakti singgah sebentar di markas yonif itu dalam rangkaian perjalanan pelaksanaan tugas pengawasan dan evaluas (wasev) TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-106 di wilayah Kodim 1001/Amuntai, tepatnya di Desa Binuang Santang, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Senin (14/10) ini.
“Bagi saya markas ini tak asing lagi, karena saya dulu pernah ditugaskan sebagai Danyonif (komandan yonif) di sini tahun 2002-2003,” ujar Bakti.
Usai disambut Danyonif 621/Manuntung Letkol Inf. M. Ishak H. Baharuddin, Dandim 1002/Barabai Letkol Inf Nur Rohman Zein, jajaran prajurit Yonif 621/Manuntung, serta Pemimpin Umum/Redaksi Harian Pagi Mata Banua H Fachruddin Nor Ifansyah yang menjadi kerabat Mayjen Bakti Agus selama bertugas di Kalimantan Selatan, ruang tamu Danyonif menjadi tempat nostalgia perjalanan karier.
Di atas meja yang sudah tersedia makanan dan kue khas Barabai yakni apam, bubungku, dan kue lam, Aster KSAD itu mulai mencicipi. Pertama yang dicicipinya adalah kue apam, dilanjutkan bubungku. “Rasanya enak. Ini ‘wadai apam dan bubungku’. Saya suka dengan wadai ini, wadai ini taka sing bagi saya” tutur Bakti.
Beberapa saat kemudian setelah mencicipi penganan khas Kota Barabai, Bakti pun duduk di koridor belakang makoyonif. Kisah nostalgianya semakin menjadi. Ia melihat dua pohon jambu air yang dulunya masih kecil. Saat kedatangan, dilihatnya sangat besar dan mulai berbuah berukuran kecil.
“Masih ada ya pohon jambu ini?, dulu saat saya tugas di sini masih kecil. Lapangan juga masih ada ya?,” kata Bakti sambil bertanya kepada Danyonif 621/Manuntung Letkol Inf. M. Ishak H. Baharuddin yang duduk di sebelahnya.
Bahkan Bakti juga bertanya tentang wisata Pagat dan kondisi jalan menuju objek wisata andalan Kabupaten Hulu Sungai Tengah tersebut.
Meski masa tugasnya satu tahun sebagai Danyonif 621/Manuntung, namun kata Bakti, dirinya hanya berada di markas itu sekitar satu bulan. Setelah itu diperintahkan untuk menjalankan tugas operasi di daerah konflik Aceh pada waktu itu. “Saya Cuma satu bulan di sini, tiba-tiba diperintahkan tugas operasi di Aceh. Justru ibu yang tinggal di Barabai ini,” kenangnya.
Sukses menjalankan tugas operasi dan pulang kembali ke Kota Barabai, Mayjen Bakti Agus diamanahkan kembali untuk bertugas sebagai Kasi Ops Korem 101/Antasari pada 2004. Kemudian pada 2006 dipercaya sebagai Dandim 1007/Banjarmasin di era Walikota Yudhi Wahyuni dan wakil Walikota Alwi Sahlan.
Meski hanya sekitar 1,5 jam menyambangi Makoyonif 621/Manuntung, raut wajah perwira tinggi TNI AD yang low profile ini tampak bahagia. Nostalgia itu dilanjutkan dengan berkeliling lingkungan makoyonif untuk mengingat kembali masa penugasannya di Kota Barabai tersebut.
Menurut Bakti, ia banyak hafal dengan kondisi di Kalimantan Selatan. Paling berkesan selama tugas di Kalimantan Selatan adalah masyarakatnya yang ramah. Bahkan suasana religi dan kerukunannya sangat terasa. Hal inilah yang mendukung kelancaran tugasnya sebagai prajurit TNI AD di Bumi Antasari.
Bahkan selama menjabat sebagai Dandim 1007/Banjarmasin, ia bersama jajaran membantu pelaksanaan pembangunan yang sata itu Kota Banjarmasin dipimpin Walikota Yudhi Wahyuni dan Wakil Walikota Alwi Sahlan . “Kami sering bersih-bersih di pasar, kami juga membantu upaya Pemko Banjarmasin melakukan penataan kota, dan lain sebagainya,” tutur Mayjen TNI Bakti Agus Fadjari.()



