Ilustrasi; Munir Said Thalib

Ironi Hari Buruh di Tengah Pandemi

Diposting pada

Sejarah masyarakat adalah sejarah perjuangan kelas. Banyak kita temui di berbagai literatur mengenai si kaya dan si miskin, bangsawan dan hamba sahaya, petani dan tuan tanah, sampai pemilik pabrik dan buruh pabrik.

 

Setiap perjuangan kelas selalu disusupi dengan kepentingan-kepentingan golongan tertentu. Hal ini mungkin tidak selalu nampak, bisa saja sembunyi-sembunyi. Tapi satu hal yang kita tahu bahwa perjuangan kelas itu ada.

 

Berbicara mengenai perjuangan kelas, tentu tidak dapat dipisahkan dengan perjuangan kaum buruh. Sejak revolusi industri modern menciptakan pasar dunia. Hal ini telah mendorong perkembangan perdagangan, pelayaran, maupun lalu lintas darat.

 

Melalui pasar dunia para pemilik modal menjadikan produksi dan konsumsi semua negara bersifat kosmopolitan, hal ini mengakibatkan peningkatan produksi di titik tertinggi. Namun demikian, penerima dampak negatif dari kebijakan ini adalah kaum buruh.

 

Pengetatan jam kerja, serta upah yang minim menjadi hasil dari tuntutan produksi yang semakin tinggi bagi kaum buruh. Hal ini melahirkan perlawanan dari kaum buruh.

 

1 Mei 1886 menjadi peristiwa bersejarah bagi kaum buruh, hari ini dikenal dengan Peristiwa Haymarket. Pada peristiwa ini ratusan ribu buruh melakukan mogok kerja demi menuntut hak-haknya. Salah satu tuntutannya ialah pembatasan jam kerja yaitu delapam jam per hari. Perlu diketahui saat ini kaum buruh terpaksa untuk berkerja 16-20 jam per hari.

 

Dilansir dari tirto.id, Pada awalnya, demonstrasi berlangsung damai. Namun pada tanggal 3 Mei, para polisi bentrok dengan para pekerja di McCormick Reaper Works. Keesokan harinya, sebuah demonstrasi direncanakan di Lapangan Haymarket untuk memprotes pembunuhan dan luka yang dilakukan para polisi.

 

Akan tetapi, ketika petugas datang untuk membubarkan kerumunan, seorang yang tidak pernah diidentifikasi melemparkan bom ke dalam barisan mereka. Kekacauan pun terjadi, dan setidaknya tujuh polisi dan delapan warga sipil tewas akibat kekerasan hari itu.

 

Tiga tahun setelah kejadian itu, Konferensi Sosialis Internasional memperingati Peristiwa Haymarket sebagai hari libur kaum buruh. Sejak saat itu, 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Internasional.

 

Menelisik sejarah kaum buruh, di Indonesia sendiri demostrasi kaum buruh telah dilaksanakan dalam beberapa tahun belakangan. Semenjak lengsernya pemerintahan Orde Baru, perayaan hari buruh rutin dilaksanakan setiap 1 Mei di berbagai daerah di Indonesia.

 

Bukan tidak berdasar, selama pemerintahan Orde Baru pergerakan kaum buruh dikonotasikan sebagai pergerakan komunis. Hal ini menjadikan hari buruh sebagai tabu dalam masyarakat pada masa itu. Selain itu tindakan demonstrasi juga diisukan sebagai tindakan yang destruktif.

 

Setelah lengsernya pemerintahan Orde Baru, peringatan hari buruh telah tercatat sejak 1999 sampai sekarang.

 

1 Mei 2020 adalah ironi yang harus dihadapi oleh kaum buruh di seluruh negeri. Hari buruh harus diperingati dengan keprihatinan dampak pandemi. Telah dilaporkan sekitar dua juta buruh telah di-PHK maupun di rumahkan akibat pandemi.

 

Selama pandemi muncul berbagai kebijakan demi memutus mata rantai persebaran virus. Kebijakan ini berdampak pada pengurangan jam kerja yang mengakibatkan pengurangan produksi. Sehingga lapangan pekerjaan menyempit. Hal ini mengakibatkan kaum buruh terdampak secara langsung.

 

Meskipun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa pandemi ini berdampak pada menurunnya tingkat perekonomian global maupun nasional yang mengakibatkan penyempitan lapangan pekerjaan.

 

Nun Al Muharir, 1-2 Mei 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *