Banjarmasin – Pendidikan merupakan sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pelatihan (sumber:KBBI). Oleh karena itu, hal ini biasa dilakukan oleh sebuah lembaga atau seseorang (guru). Meskipun demikian pendidikan tidak selalu dikelola oleh sebuah lembaga.
Terkadang, sebuah lembaga pendidikan muncul sebagai manifestasi budaya untuk mengintegrasikan sistem sosialnya. Dalam beberapa kasus pendidikan tidak dilakukan dalam suatu lembaga, melainkan dari pengalaman perorangan yang membentuk kepribadiannya.
Selama ratusan tahun proses pendidikan, ia sering kali berubah-ubah. Menyesuaikan dengan keadaan dan budaya yang dianut oleh suatu kelompok. Perubahan tersebut berjalan secara perlahan, tetapi pasti. Pendidikan muncul dengan nilai-nilai budaya. Seiring perkembangan zaman beberapa nilai yang dianut mulai dilupakan.
Berdasarkan definisi umum di atas, pendidikan merupakan proses pengubahan sikap melalui pengajaran dan pendidikan. Hal ini menyebabkan pendidikan erat kaitannya dengan guru, terutama di Indonesia. Mereka merupakan roda penggerak pendidikan yang memiliki peran paling vital.
Selama pandemi, beberapa orang mempertanyakan peran guru dalam pendidikan. Persoalannya adalah kegiatan belajar mengajar di sekolah tiba-tiba berubah tanpa tatap muka selama pandemi. Hal ini menyebabkan pemanfaatan teknologi oleh guru maksimal.
Selama ini kita ketahui secara umum, bentuk KBM adalan ruang, murid, dan guru.
Menteri Nadiem, dilansir dari kanal YouTube Najwa Shihab menyampaikan bahwa selama pandemi empati terhadap guru meningkat secara drastis. Para orang tua akan memahami sulitnya untuk mendidik seorang anak. Namun, hal ini merupakan pendidikan yang ideal karena dalam pendidikan ini turut serta guru, murid, dan orang tua.
Ia mengungkapkan bahwa tekonologi bukan untuk menggantikan guru dalam KBM, tetapi memaksimalkan kompetensinya dalam pendidikan.
“Satu satunya cara untuk benar benar belajar dan tumbuh sebagai individu adalah keluar dari zona nyaman kita, guru, murid, maupun orang tua,” terangnya.
Kegiatan belajar mengajar yang tiba-tiba berubah membuat Akbar, guru SMK Unggulan Husada, mengoptimalkan teknologi dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Menurut penuturannya, Akbar menggunakan benerapa media selama proses pembelajaran.
“Saya menggunakan Classroom dari Google, Whatsaap, dan Telegram. Meskipun demikian saya tidak bisa memaksa semua siswa untuk mengikuti arahan saya, karena beberapa siswa memiliki keterbatasan untuk memenuhi pembelajaran”, terang Akbar saat diwawancara via telekonferensi.
Akbar menjelaskan penggunaan beberapa aplikasi pada mata pelajaran yang ia ampu. “Classroom saya gunakan untuk pemberian materi maupun tugas. Disana saya juga melakukan diskusi pada materi-materi yanh saya buat. Alhamdulillah siswa cukup antusias dalam diskusi materi. Selain itu ada beberapa siswa yang langsung menghubungi whatsapp jika ada pertanyaan. Mungkin malu kalau bertanya di forum. Saya maklum”.
“Kalau Telegram, saya gunakan untuk latihan soal karena tampilannya yang menarik. Dengan demikian saya optimis peran guru tidak akan digantikan oleh teknologi, tetapi teknologi hadir untuk mengoptimalkan komptensi guru, seperti yang dikatakan Mas Menteri,” terangnya.
Dalam wawancara tersebut, Akbar menyampaikan bahwa menurutnya kegiatan belajar mengajar semacam ini boleh jadi merupakan hal yang mudah untuk dilakukan bagi penduduk yang berdomisili di kota-kota. Namun, tidak dengan masyarakat di lain tempat seperti di kampung-kampung. Hal ini tentu menuntut perhatian lebih untuk diberi solusi.
Selain itu, Akbar juga menuturkan bahwa, “Mungkin setelah pandemi mereda, ada perubahan yang begitu besar dialami oleh masyarakat di segala sektor, terutama pendidikan,” pungkasnya.
Nun Al-Muharir



