Nasib Pedagang Sayur di Masa Pandemi Covid-19

Nasib Pedagang Sayur di Masa Pandemi Covid-19

Diposting pada

Editor: Almin Hatta

TAMIYANGLAYANG – Dampak pandemi Covid-19 berimbas pada segenap sektor usaha. Mulai dari usaha besar, menengah, hingga usaha kecil. Semua mengalami penurunan pendapatan, bahkan sampai menggerus modal usaha, hinggga akhirnya tak sedikir yang bangkrut.

Setidaknya, demikianlah yang dialami Endang Selawati, warga Kecamatan Dusun Tengah, Kabupaten Barito Timur (Bartim), yang tadinya berdagang sayur keliling hingga sampai ke Ampah.

“Sejak sekitar dua bulan lalu, saya sudah tidak berdagang sayur lagi. Modalnya habis,” ungkap ibu dari lima orang anak ini, ketika ditemui Maknanews di Kantor Dinas Sosial Bartim, di Tamiyang Layang, Jum’at (16/10/2020). 

Endang bercerita. Sejak munculnya wabah Covid-19 sekitar enam bulan lalu, dari hari ke hari pendapatannya berdagang sayur terus berkurang. Pasalnya, pembeli dari hari ke hari semakin sedikit. Kalau pun ada yang beli, juga tak banyak.

“Karenanya, keuntungan yang didapat juga terus berkurang. Lama-lama, tidak ada untungnya lagi. Bahkan kemudian mulai merugi, sebab dagangan sering tak habis. Namanya sayur, kalau tak laku ya busuk. Ya rugi,” ujarnya.   

Akhirnya modalnya pun habis. “Sedangkan sekarang ini saya tidak berjualan sayur lagi. Sejak sekitar dua bulan lah, karena tidak ada lagi modalnya,” ucapnya.

Meski demikian, Endang mengaku tak putus asa. Ia masih ingin berdagang lagi. Untuk itulah ia datang ke Dinas Sosial Bartim, berharap mendapatkan bantuan modal.  

“Kalau ada pemerintah mengasih modal, pasti kita akan berusaha berjualan lagi. Karena tujuan kita demi keluarga, untuk memenuhi kebutuhan anak. Kalau diberi modal Rp 2 juta, cukuplah untuk memulai usaha lagi,” katanya.

Endang mengaku punya lima orang. Anak pertama dan kedua perempuan, sudah tidak sekolah lagi. Tapi saat ini keduanya berusaha mencari uang sendiri. “Bekerja di warung milik orang lain, dengan upah Rp25 ribu per hari,” ujarnya.

Sedangkan tiga anaknya lagi masih kecil-kecil. Dua orang masih di SD masing-masing kelas III dan kelas I. Satu lagi belum sekolah.

“Tiga anak itulah yang perlu kita carikan biaya hidupnya, termasuk biaya pendidikannya. Dan tentu saja untuk biaya hidup kami sekeluarga sehari-hari,” tuturnya.

Sebenarnya suami Endang masih ada dan sehat-sehat saja. “Tapi sudah lama pula tidak bekerja lagi, yah sejak pandemi Covid-19 ini inilah,” katanya.

Dulu, lanjut Endang, suami bekerja mencari sayuran, seperti kangkung, genjer, dan sayuran lainnya yang biasanya banyak ditemui  di lahan persawahan.

Tapi kemudian sepeda suaminya rusak. Sedangkan uang untuk memperbaikinya tak ada. 

“Sejak itu suami saya lebih banyak di rumah saja, tidak ada pekerjaan, ya sejak sekitar dua bulan lalu lah. Jadi, kami berharap kepada pemerintah, agar dibantu modal untuk bekerja,” tutup Endang Selawati.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *