Editor : Almin Hatta
BANJARMASIN – Amblasnya oprit jembatan di Desa Bawahan Pasar, Kecamatan Mataraman, Kabupaten Banjar, mengakibatkan terputusnya jalan nasional yang menghubungkan Banjarmasin ke kawasan Hulu Sungai.
Seperti yang diketahui, jalan tersebut merupakan akses darat utama dari Banjarmasin hingga ke seluruh kabupaten di kawasan Hulu Sungai. Sontak kemacetan pun tak dapat dihindari.
Pelaksana Tugas Ketua DPD Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kalimantan Selatan, Luthfi Rahman, memberikan tanggapan mengenai peristiwa ini. Menurutnya, hal ini menjadi catatan bagi Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Selatan dan Pemerintah Pusat, serta stake holder lainnya, agar dapat melakukan pembenahan intensif Jalan Nasional yang menghubungkan Banjarmasin – Hulu Sungai.
“Putusnya jalan utama Banjarmasin – Hulu Sungai ini sangat merugikan masyarakat, dan berdampak buruk terhadap perekonomian, akibat tertundanya jalur distribusi. Perlu ada pembenahan yang intensif dengan direncanakan pembangunan jalur baru, seperti tol yang menghubungkan Banjarmasin – Hulu Sungai yang melingkupi Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Balangan, dan Tabalong,” ujarnya.
Terlebih saat ini, tutur Luthfi Rahman, dari 4.2 juta penduduk Kalimantan Selatan, 35% diantaranya berada di daerah Hulu Sungai.
“Tentu terputusnya akses darat yang mehubungkan Banjarmasin – Hulu Sungai ini, kita tidak ingin terulang kembali. Pembaharuan jalur akses utama ini menjadi sebuah keharusan, seiring dengan bertambahnya kepadatan penduduk di daerah Hulu Sungai yang pasti membutuhkan aksesbilitas yang memadai,” tegasnya.
Terakhir, lanjut Lufhfi, pembangunan jalur terbarukan tol Banjarmasin – Hulu Sungai merupakan sebuah keniscayaan, dengan melihat saat ini terbangunnya Jalur Tol Banjarbaru – Tanah Bumbu.
“Tinggal bagaimana hal ini dapat diperjuangkan bersama oleh Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Selatan dan DPR RI Dapil Kalimantan Selatan, agar mendapatkan atensi Pemerintah Pusat,” ujarnya.[]



