Warga Kehilangan Tempat Tinggal, Minta Tolong Pemerintah

Warga Kehilangan Tempat Tinggal, Minta Tolong Pemerintah

Diposting pada

Editor : Almin Hatta

BARABAI – Bencana banjir di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), benar-benar meluluhlantakkan sejumlah pemukiman dan pasilitas umum di beberapa wilayah. 

Pasar Hantakan misalnya, hingga Selasa (19/1/2021) kemarin terlihat masih berantakan. Beberapa bagian dari bangunan pasar tersebut hancur, karena diterjang derasnya air yang datang. Sejumlah rumah warga di sekitar pasar tersebut juga rusak parah.

Di Desa Bulayak, Kecamatan Hantakan, sejumlah rumah warga di kawasan tepi sungai hanyut terbawa air deras. Salah satu warga yang kehilangan tempat tinggalnya menuturkan, ketika banjir tiba-tiba datang, maka  puluhan rumah yang terletak di tepi sungai langsung terbawa hanyut.

“Ya, sejumlah rumah, mungkin belasan, hanyut. Juga beberapa rumah warga hancur dan yang tertinggal bekas tanahnya saja. Semua hanyut terbawa derasnya air pada saat itu,” ujar Norjanah, warga  RT 1, Desa Bulayak, Selasa (19/1/2021).

Warga lainnya, yang juga mengalami musibah banjir, Norpah, mengatakan, kala itu, Kamis pekan lalu, sekitar jam 11 malam, tiba-tiba saja datang air besar yang sangat deras.

“Air yang sangat deras itu tiba-tiba sudah memasuki rumah. Kami semua panik, lalu saling memberitahukan ke keluarganya masing-masing untuk segera menyelamatkan diri ke dataran yang tinggi. Kita pergi ke gunung sana,” ujarnya, sambil menunjukkan tempatnya kepada Maknanews saat wawancara.

“Untung, syukur Alhamdulilah, warga kami semuanya selamat. Tapi untuk barang-barang, isi rumah, tidak ada yang bisa kita selamatkan. Kami semua langsung lari menyalamatkan diri, dan itu memang yang utama harus dilakukan,” sambung Norpah.

Norpah memperlihatkan puing-puing rumahnya dan warga sekitarnya, yang benar-benar luluh lantak. Bahkan tak sedikit yang cuma tinggal tanahnya saja, tak ada lagi bekas-bekasnya karena semua terbawa derasnya arus banjir.

“Ada juga yang masih tersisa puing-puing bangunannya, atau tersisa sebagian rumah saja.  Sedangkan rumah saya, tidak ada lagi sisanya. Kami sekeluarga sementara ini tinggal di pos kamling. Tetangga kami ada juga yang tinggal di tenda terpal,” ujar Norpah lirih.

Norpah juga menyebutkan, musibah banjir ini juga menyebabkan jambatan gantung yang menghubungkan desa mereka dengan kawasan lain terputus.

“Kami kehilangan jalan untuk keluar. Kami kini merasa terasing. Inilah yang kami rasakan. Semoga Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten bisa segera datang untuk memberikan pertolongan. Terutama mengenai rumah kami, tempat tinggal semua warga, dan jalan atau jembatan penghubung ke daerah luar,” ucapnya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *