Editor : Almin Hatta
TAMIYANGLAYANG – Warga Kabupaten Barito Timur (Bartim) mengeluhkan tingginya harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM) belakangan ini, terutama jenis premium (bensin) di tingkat eceran.
Sejak sekitar dua pekan lalu, hingga hari ini, Sabtu (30/1/2021), pedagang bensin eceran di Tamiyang Layang dan sejumlah desa di Bartim mematok harga hingga Rp15.000 per liter. Dan itupun tak banyak pedagang yang menjual. Karenanya, selain harganya mahal, warga pun kesulitan untuk mendapatkannya.
“Harga yang dipatok pedagang eceran itu kelewat mahal, memberatkan bagi masyarakat umum di Bartim ini,” kata Aldi, salah seorng warga Tamiyang Layang, Jum’at (29/1/2021) kemarin.
Menurut Aldi, dibandingkan penghasilan warga Bartim secara umum, maka harga bensin eceran itu terasa sangat memberatkan.
“Sebagai contoh, petani karet misalnya. Saat ini harga jual karet cuma di kisaran Rp8.000 hingga Rp8.500 per kilogram. Coba bandingkan dengan harga BBM jenis premium yang saat ini dijual eceran mencapai Rp15.000 per liter. Sebuah perbandingan yang terlalu jauh,” tegasnya.
Karena itu, Aldi berharap Pemerintah Kabupaten Bartim dan instansi terkait agar sesegera mungkin menstabilkan harga BBM jenis premium ini. Ia minta pihak berkompeten segera mengembalikan harga bensin ke harga normal sebagaimana sebelumnya.
Aldi mengingatkan, jangan jadikan alasan bahwa kenaikan harga ini terkait dengan pelangsir BBM yang harus antre dan terbatas mendapatkan jatah BBM di SPBU terkait bencana banjir di Kalimantan Selatan.
“Sebab, sejauh ini tidak ada instruksi kenaikan harga BBM secara resmi dari pemerintah,” ujarnya.
Aldi menyatakan, hal ini disuarakannya selaku elemen masyarakat yang peduli terhadap kesusahan warga. “Masyarakat mana? Ya masyarakat kalangan bawah. Jadi, kita minta pemerintah daerah agar segera mengatasi masalah ini,” katanya.
Semua pihak terkait, lanjut Aldi, hendaknya bertindak lebih cepat. Sebab, warga benar-benar merasakan beratnya beban dari kenaikan harga BBM ini.
“Apalagi kita saat ini masih berhadapan dengan pandemi Covid-19. Harapan kami, pihak tertentu jangan mengambil kesempatan untuk mengeruk keuntungan diri sendiri dalam kondisi sulit ini,” ujarnya.
Sementara itu, salah seorang pengecer BBM di Bartim mengatakan, sudah beberapa hari terakhir ia tidak jualan BBM. “Karena dari pengantar BBM sudah menjual dengan harga terlalu tinggi, satu leternya Rp10.000 ke atas,” ucapnya.[]



