BARABAI – Seorang warga Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), yang selama ini dikenal sebagai preman, kini insaf dan menjadi pengelola usaha batako.
Preman ini, sebut saja namanya Madan (bukan nama sebenarnya, red), mengaku selama 8 tahun menjalani hidup sebagai preman, bersama sejumlah preman lainnya, di kota Banjarmasin (Ibukota Kalsel).
“Selama sekian tahun tersebut, saya tidak tahu masa depan kehidupan saya nantinya seperti apa. Bahkan saya tidak pernah berpikir ke arah sana,” katanya kepada Maknanews, Minggu (16/1/2022).
Madan bercerita, kehidupan yang dijalaninya selama 8 tahun bersama sejumlah preman lainnya tak jauh dari rame-rame. Pokoknya tiap hari dijalani dengan hura-hura. Ingin hidup mudah saja, tanpa harus bekerja.
“Tapi, Lahaula wala kuata Illa Billah. Tuhan maha kuasa. Tuhan melengkapi alam ini, semua ada. Ada yang mengais rezeki dengan mengandalkan kepintaran. Ada yang memanfaatkan kemampuan yang dimiliki masing-masing. Dan saya kemudian menjadi pengelola usaha batako. Itulah kekuasaan Tuhan,” ujarnya.
Menurut Madan, tempat bergaul seseorang sangat berpengaruh terhadap kehidupan orang yang bersangkutan.
Madan menuturkan, kalau seorang preman bergaul dengan orang baik-baik, maka ia akan ikut berbuat baik. Bahkan bisa menyadarkan dirinya. Sebaliknya, seorang yang baik, jika berteman dengan pencuri, maka bisa ikut mencuri. Berkawan pemabuk, jadi pemabuk. Berkawan penzina, ikut berzina, dan seterusnya.
“Karena itu, dalam menjalani kehidupan ini, yang utama adalah jauhi nafsu jahat, dan dekatkan diri dengan kebaikan,” ucapnya.
Madan mengaku, perubahan kehidupannya bermula ketika ia tiba-tiba berpikir untuk berumah tangga.
“Secara tidak langsung, keinginan berumah tangga ini mengubah pemikiran saya dalam menjali kehidupan. Dari semula sebagai preman terminal, saya memulai bekerja. Yakni usaha penjual ikan ke desa-desa. Saya pilih usaha yang layak dan dapat mencukupi kebutuhan keluarga di rumah,” katanya.
Madan mengungkapkan, penghasilan seorang preman di Banjarmasin sekitar Rp25ribu per hari. Jumlah tersebut dinilai tak cukup untuk menghidupi sebuah keluarga yang tinggal di kota. Karena itulah ia memutuskan untuk bekerja, dan kembali ke kampung.
“Kalau di kampung, walau pun penghasilan sedikit, tapi kebutuhan hidup juga tak terlalu banyak. Perbedaan hidup di kota dengan desa itu kan pada segi pengeluaran. Di kota pengeluaran jauh lebih besar,” ujarnya.
Sekitar satu tahun menjadi pedagang ikan dari kampung ke kampung, tiba-tiba seorang teman lama dari Banjarmasin datang menemuinya.
“Pada waktu itu ikan dagangan saya masih banyak. Tapi oleh teman itu dibeli semuanya, dan ikannya tidak diambil. Akhirnya semua ikan itu saya sedekahkan kepada warga setempat. Itu perbuatan baik yang tentunya jadi pahala,” ucapnya, sembari tersenyum.
Dari situlah, papar Madan, ia kemudian memulai pengelola usaha batako, CV Istana Paving, di Desa Durian Gantang/Padang Sirangut, Kecamatan Labuan Amas Selatan (LAS), Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
“Silahkan beli batako hasil produksi kami. Kami siap melayani,” ujarnya dengan nada promosi.
Madan berpesan, lakukanlah pekerjaan yang menghasilkan untung bagi kita, namun sekaligus tidak merugikan orang lain. “Semoga apa yang kita kerjakan diridhoi Allah,” ucapnya.
Sebagai mantan preman, Madan mengaku pernah ikut menyelesaikan permasalahan antara pedagang, pemerintah, dan preman Pasar Pantai Hambawang.
“Permasalahannya berhasil kita selesaikan dengan bijak, dengan baik, yang dapat diterima oleh pedagang, preman, dan pemerintah. Sampai sekarang kondisi pasar itu berjalan dengan baik dan tidak ada permasalahan lagi,” imbuhnya.[]
Editor : Almin Hatta



