TAMIYANGLAYANG – Insiden karamnya tongkang dengan nomor lambung PST 208 di sekitar Pelabuhan Khusus (Pelsus) Desa Telang Baru, Kecamatan Paju Epat, Kabupaten Barito Timur (Bartim), Kalimantan Tengah (Kalteng), pada Minggu (12/3/2023) lalu, hingga kini masih menyisakan misteri.
Siapa atau perusahaan apa pemilik batubara yang diangkut tongkang karam tersebut, pelum ada kejelasan.
Di sisi lain, tenggelamnya ribuan ton batubara tersebut dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak pencemaran terhadap Sungai Napu yang berada di Desa Telang Baru.
Saat awak media menelusuri fakta dan data di lapangan, dan mencoba konfirmasi kepada managemen PT Bangun Nusantara Jaya Makmur (BNJM) selaku pengelola Pelsus Batubara di Desa Telang Batu, justru diarahkan ke pihak managemen PT Pelindo.
Sebelumnya, Selasa (15/3/2023), tongkang dengan nomor lambung PST 208 yang awalnya ditarik Tugboat Dillah Samudra itu masih berada di pinggiran dermaga Pelabuhan PT BNJM.
Kuasa Direksi PT BNJM, Harry Susanto, menyatakan pihaknya masih belum mengetahui persis permasalahannya. Dia juga menyampaikan bahwa pelabuhan PT BNJM kini dikelola PT Pelindo (Pelabuhan Indonesia).
Sementara itu, Faisol (biasa dipanggil Icang) selaku petinggi PT Pelindo yang mengelola Pelsus di Desa Telang Baru, ketika dikonfirmasi via hp mengatakan dirinya tidak bisa memberikan informasi ke wartawan maupun ke media. Dia menyarankan menghubungi nomor pihak Pelindo yang ada di website PT Pelindo dengan link web https://pelindo.co.id/.
Dari informasi yang dihimpun di lapangan, diperkirakan pemilik batubara tersebut adalah PT Sentosa Laju Sejahtera (PT SLS) dari Muara Tewe, Kabupaten Barito Utara, sebanyak 4.000 MT.
Ketika media mencoba mengkonfirmasi informasi tersebut, pihak managemen PT SLS belum bisa memberi tanggapan.
“Saya tidak bisa memberi jawaban, karena itu bukan bidang saya, nanti saya hubungi dulu Pak Hamdani,” ucap Fikry ketika ditemui di kantor PT SLS, Selasa 21 Maret 2023.
Sampai saat ini masih belum diketahui proses penanganan dari pihak terkait untuk evakuasi insiden tongkang karam ini.
Begitu pula hasil investigasi pihak DLH Bartim yang telah turun ke lapangan beberapa hari lalu. Apakah batubara yang tenggelam tersebut mencemari lingkungan sekitarnya, masih belum ada kejelasan.[]
Editor : Almin Hatta



