Saribuddin: Manasik Haji Harus Lebih Bermakna, Tak Hanya Teknis

Diposting pada

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Balangan, Saribuddin, mengikuti Rapat Koordinasi Persiapan Pelaksanaan Bimbingan Manasik Haji bagi Jemaah Haji Reguler Tahun 1446 H/2025 M yang digelar secara virtual, Sabtu (1/3/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Saribuddin menekankan pentingnya transformasi dalam penyelenggaraan manasik haji agar tidak semata-mata berorientasi teknis, tetapi juga menyentuh aspek spiritual yang lebih mendalam.

“Selama ini manasik haji kita terlalu teknis dan kering dari sisi spiritual. Kita perlu menambahkan aspek filosofis, tasawuf, hingga antropologis agar jemaah memahami makna mendalam dari ibadah haji yang mereka jalani,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas pelayanan bagi jemaah. Dalam penyampaiannya, ia mengibaratkan harapan terhadap pelayanan haji dengan istilah “tiga kali senyum.”

“Senyum pertama ketika jemaah mengetahui bahwa biaya haji lebih terjangkau, senyum kedua ketika mereka merasakan pelayanan yang semakin baik, dan senyum ketiga adalah ketika mereka kembali sebagai haji yang mabrur,” tuturnya.

Tak hanya itu, Saribuddin juga mendorong agar materi manasik turut mencakup pembahasan mengenai cara merawat kemabruran setelah kembali dari Tanah Suci.

“Kita tidak ingin jemaah hanya mendapatkan haji yang makbul di Tanah Suci, tetapi juga menjadi haji yang mabrur dalam kehidupan sehari-hari setelah mereka kembali,” jelasnya.

Dalam rapat tersebut, ia turut mengangkat isu mengenai kebijakan istitha’ah atau kelayakan kesehatan bagi jemaah. Menurutnya, kelayakan tersebut tidak boleh semata-mata berdasarkan usia.

“Banyak orang berusia 90 tahun yang masih sehat dan kuat, sementara ada yang lebih muda tetapi memiliki penyakit berat. Maka istitha’ah harus lebih mempertimbangkan aspek medis secara objektif,” paparnya.

Sementara itu, Menteri Agama Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA yang turut hadir sebagai narasumber menyampaikan pentingnya kepatuhan jemaah terhadap hukum di Arab Saudi.

“Kita harus menyampaikan kepada jemaah bahwa mereka tidak hanya perlu menaati aturan manasik haji, tetapi juga harus mengikuti regulasi pemerintah Saudi, termasuk aturan kebersihan, lalu lintas, dan ketertiban umum,” ungkapnya.

Ia juga menyinggung kemungkinan berkurangnya jumlah petugas haji pada tahun ini. Meski demikian, pelayanan kepada jemaah harus tetap optimal.

“Jika jumlah petugas dikurangi, maka harus ada strategi yang efektif agar pelayanan tetap maksimal. Jamaah membayar biaya haji dengan harapan pelayanan tetap maksimal, bukan berkurang,” ujarnya.

Menutup arahannya, Nasaruddin mengingatkan bahwa bimbingan manasik haji harus dirancang secara mendalam dan disesuaikan dengan kebutuhan nyata para jemaah.

“Kita harus memastikan bahwa manasik haji bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi juga menjadi sarana peningkatan spiritualitas dan nasionalisme bagi jemaah,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *