Di tengah gempuran kamera ponsel yang canggih dan praktis, siapa sangka anak muda justru melirik kembali kamera film analog. Hobi ini mulai naik lagi, bukan hanya karena faktor estetik, tapi juga pengalaman berbeda yang ditawarkan.
Berbeda dengan digital yang serba instan, kamera analog mengajarkan kesabaran. Setiap jepretan harus dipikirkan matang-matang karena jumlah frame terbatas. Dari sini muncul sensasi unik: menunggu hasil cetak foto yang baru bisa dilihat beberapa hari kemudian. Proses ini justru jadi daya tarik tersendiri bagi generasi yang terbiasa dengan “instan.”
Selain itu, ada romantisme tersendiri dalam fotografi analog. Tekstur foto yang khas, warna yang lebih hangat, hingga hasil yang kadang tidak terduga membuatnya terasa lebih hidup. Banyak yang menyebut foto analog punya “jiwa” yang sulit tergantikan oleh teknologi digital.
Tak heran, toko-toko cuci cetak film mulai ramai lagi, dan komunitas fotografi analog bermunculan di berbagai kota. Anak muda berkumpul, saling berbagi tips, sekaligus berburu kamera film lawas di pasar loak atau toko barang vintage.
Lebih dari sekadar tren, fotografi analog jadi medium ekspresi baru. Banyak yang menggunakan hasilnya untuk pameran, portofolio seni, hingga sekadar mengisi feed media sosial dengan nuansa retro.
Pada akhirnya, hobi ini mengingatkan bahwa fotografi bukan sekadar soal hasil akhir, tapi juga pengalaman dan cerita di balik setiap jepretan.[]



