Upaya Menghidupkan Kembali Foto Analog
(maknanews.com)

Upaya Menghidupkan Kembali Foto Analog

Diposting pada

BAGI pecinta fotografi, pasti tidak asing dengan kamera tustel. Kamera tustel atau kamera analog merupakan teknologi kamera yang menangkap foto menggunakan roll film. Kamera yang populer di tahun 80-90an tersebut sudah lumayan lama ditinggalkan, setelah teknologi kamera digital marak di pasaran pada awal tahun 2000-an.

Namun tidak bagi Ari, penjual roll film negatif kamera analog. Tim Makna News menyambanginya di Brewing Chamber, sebuah coffee shop yang terletak di komplek Pasar Kesatrian di Jalan Pangeran Hidayatullah, Rabu (5/8/2020).

Selain penasaran di mana pria paro baya tersebut bisa mendapatkan film negatif, tim juga ingin mencari tahu lebih lanjut fenomena munculnya kembali penggunaan kamera analog di zaman milineal sekarang ini.

“Diawali dari hobi, kemudian bertemu dengan teman-teman sehobi dari Kalimantan di facebook, dibuatlah grup facebook di tahun 2012. Grup ini kemudian menjadi forum tanya jawab mengenai kebutuhan, penggunaan, dan perawatan kamera analog,” tutur Ari.

Dimulai dari forum tersebut, paparnya, seluruh fotografer pengguna kamera tustel di Pulau Kalimantan bisa bertukar informasi. Setelah munculnya instagram, forum tersebut juga merambah ke media sosial yang fokus pada foto menggunakan negatif film tersebut.

“Kita awalnya ngerespon foto anggota forum kita aja. Kemudian iseng ngadain lomba berhadiah roll film gratis pada 2017. Nah dari situ, penggemar kamera analog semakin banyak,” ujarnya.

Membludaknya penggiat foto kamera analog membuat permintaan roll film semakin tinggi. Dari sini Ari dapat ide untuk menjual roll film negatif di Banjarmasin. “Sebelumnya, anggota forum kamera analog itu belinya kolektif, biar ongkirnya cuma bayar sekali. Jadi beli biasanya bisa langsung 20 roll. Tapi kalo nggak dapat sampai segitu, bisa batal beli roll filmnya,” jabarnya.

Roll film yang dijual Ari beraneka ragam. Ada roll film warna dan hitam putih, dari berbagai merk. Ada juga roll film produksi Indonesia yang merupakan film ‘rebranding’, yaitu Cirafilm. Dia mendapatkan roll film ini rata-rata dari Pulau Jawa, karena di sana masih banyak pengguna kamera analog.

Harga yang ditawarkan untuk 1 film roll bervariasi dari Rp85.000 hingga Rp115.000. Harganya dipatok dari merk dan Iso roll film tersebut.

Ketika ditanya mengenai jasa cuci film, Ari mengatakan bahwa di Banjarmasin masih belum tersedia. Kalau ingin mencuci roll film, para anggota Forum Kamera Analog Borneo biasanya harus mencuci secara kolektif. “Terakhir saya temuin di toko film dekat Taman Kamboja tahun 2012. Mereka itu masih ada alat cucinya kalo ngga salah,” jabarnya lagi.

Waktu ditanya apakah akan membuka jasa cuci film, Ari tertawa tipis. Dia menyebut hal tersebut sudah ada dalam benaknya, tapi dia tidak akan melaksanakannya dalam waktu dekat.

“Saya sebenarnya ingin membuat Tempat Sewa Kamar Gelap, seperti Wash N Burn di Jakarta. Kalau tidak salah, biayanya sekitar Rp400.000 untuk mendapatkan pengalaman dari mencuci sampai mencetak roll film sendiri,” ucap ari. “Tapi kalo dalam waktu dekat, masih belum sih,” tegasnya kembali.[]

 

Reporter: Riana

Editor: Almin Hatta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *