PARINGIN – Perjuangan tenaga pendidik demi mencerdaskan anak bangsa di pelosok Kabupaten Balangan layak mendapat apresiasi, dan mestinya perhatian pihak berkompeten.
Para pendidik di pedalaman Kalimantan Selatan ini harus menempuh perjalanan menerabas hutan dan menyusuri sungai selama 7 jam, menggunakan sepeda motor serta berjalan kaki di lereng kaki Pegunungan Meratus.
Plt Kepala Sekolah bernama Lelu Dinata, yang merupakan tokoh masyarakat Adat Dayak Kecamatan Halong, bersama para Tenaga Guru Kontrak pada sebuah Sekolah Dasar Kecil (SDK) di pelosok negeri bernama SDK Ambatuin, anak Desa Uren, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalsel, tetap semangat menjalankan tanggung jawab sebagai tenaga pendidik setempat.
Dikatakan Lelu Dinata, sebenarnya ada dua cara untuk mencapai SDK Ambatuin. Yakni melintasi perjalanan ekstrem di jalur lereng Pegunungan Meratus dari Kecamatan Halong. Atau lewat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), dengan waktu tempuh mencapai 13 jam perjalanan.
Lelu menjelaskan, untuk perjalanan melintasi Kaltim harus menuju ke Tanah Grogot, Kabupaten Paser, lalu ke Muara Kerang, untuk kemudian meneruskan perjalanan menuju Desa Muara Andeh di Provinsi Kaltim. Dilanjutkan jalan memutar hingga sampai ke Desa Ambatuin, Kecamatan Halong, Balangan, Kalsel.
“Dalam kondisi jalan dan cuaca normal, waktu tempuh kedua jalur perjalanan tersebut bisa dibilang sesuai target. Yakni melintasi hutan Pegunungan Meratus sekitar 7 jam, dan melintasi Provinsi Kaltim ditempuh dengan waktu 13 jam perjalanan,” ungkapnya, Rabu (5/1/2022).
Hanya saja, papar Lelu, jika terjadi kendala cuaca tak bersahabat, atau kendala alam lainnya, maka perjalanan akan sangat memakan waktu hingga berhari-hari lamanya.
Di tengah perjalanan, lanjut Lelu, kendaraan yang sudah tidak mungkin lagi dikendarai karena kondisi jalan tak memungkinkan, terpaksa dititipkan kepada alam. Yakni ditinggal di hutan yang merupakan posko persinggahan, sebelum menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.
“Kerusakan kendaraan, cedera personil, semua ditangani bersama. Kadang harus bermalam di hutan. Selain itu, dalam perjalanan ada sejumlah binatang seperti lintah dan binatang lainnya,” ujar Sang Kepala Sekolah ini.
Lelu menuturkan, sesampai di Dusun Ambatuin, para tenaga didik bermalam di rumah kayu SDK Ambatuin, dengan fasilitas seadanya, tanpa listrik, tanpa kasur, dan tentu saja tanpa signal.
“Rumah sederhana itu hanya memiliki satu ruangan untuk ditempati bersama,” ucapnya.[]



