Begini Ritual yang Harus Dilewati Calon Penari Gandut

  • Whatsapp
Foto Ilustrasi

PENARI gandut memang mempesona. Seorang sultan saja bisa terpikat olehnya.

 

Nyai Kemala Sari dikatakan sebagai salah satu mantan penari gandut. Atas pesonanya ia kemudian diperisteri Sultan Adam dan menjadi permaisuri di Kesultanan Banjar. Itu menunjukkan, betapa seorang penari gandut masyur bagi banyak orang.

 

Pesona seorang penari gandut itu dipercaya tidak hanya datang dari kecantikan dan kepiawaian menggerakkan tubuh saja. Untuk menjadi penari gandut, ada kriteria dan syarat khusus.

 

Diungkapkan Ganda Resnadi dalam skripsi berjudul Ritual Calon Penari Bagandut di Desa Pandahan Kecamatan Tapin Tengah Kabupaten Tapin Tahun 1970, calon penari gandut harus mengikuti serangkaian ritual. Tarian gandut saat itu masih dipercaya kental dengan unsur mistis.

 

“Dalam ritual calon penari bagandut terdapat dua pihak yang harus hadir sehingga dapat disebut sah dan sesuai dengan aturan yang telah ada di kalangan seniman gandut,” tulisnya.

 

Dua pihak yang dimaksud Ganda adalah calon penari dan para tokoh sepuh atau senior dalam kesenian gandut. Sesorang harus mendapat restu para sepuh untuk bisa dikatakan sah sebagai penari gandut.

 

Calon penari gandut sendiri tidak melulu dari faktor keturunan. Siapapun bisa menjadi penari gandut, asal sudah belajar gerakan-gerakan dasarnya dengan orang yang tepat. Meskipun sangat jarang ada penari gandut yang muncul dari jalur ini.

 

Istilah untuk jenis calon penari gandut yang ini biasanya disebut dengan tumbuh bamban. Disebut demikian karena diumpamakan seperti tanaman bamban yang tumbuh sendiri tanpa ada yang secara sengaja menanamnya, walaupun kemudian bamban dapat tumbuh banyak.

 

Meski begitu, faktor keturunan tetap yang diyakini paling bagus. Bahkan, Ganda menyebut jika keturunan dari penari gandut akan mengalami masa tertentu dimana mereka bisa diganggu oleh hal-hal gaib. Masa itu disebut rimbambangun, yakni masa dimana saat itu padi telah disemai, sisa dari padi tersebut tumbuh kembali dan berbuah.

 

“Pada masa ini lah sering kali keturunan dari penari ini dipingit atau dikurung di dalam rumah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Biasanya ini terjadi pada keturunan yang belum berkeluarga. Kalau sudah terlanjur terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka untuk dapat mengatasi kondisi yang seperti itu maka harus diadakan acara kesenian maupun acara selamatan,” katanya.

 

Ritual untuk menjadi penari gandut dimulai dengan mandi mayang. Calon penari dimandikan dengan air yang telah dicampur dengan mayang (bunga pinang) dan ditambahkan dengan tujuh macam bunga sebagai lambang dari keharuman budi dan kesucian hati.

 

Disebutkan Ganda, tahapan ini bermakna sebagai proses pembersihan diri dari calon penari gandut untuk dapat menjalani profesi barunya tersebut. Tata cara upacara mandi mayang ini tidak begitu jauh berbeda dengan upacara tian mandaring yang dilaksanakan saat usia kandungan sudah tujuh bulan.

 

Rangkaian selanjutnya adalah badudus. Tidak jauh berbeda dengan mandi mayang, badudus juga dilakukan dengan mandi air bunga. Akan tetapi bedanya ada pada yang menyiramkan air bunga kepada calon penari

Yang bertindak di situ asalah penari gandut dan tokoh-tokoh kesenian secara bergantian.

 

Tahapan ini, ujar Ganda, dimaksudkan agar terjadi proses saling mengenal antara calon penari gandut dengan tokoh-tokoh pendahulunya tersebut. Tujuan dari badudus ini adalah sebagai benteng diri dari masalah kejiwaan yang bersalah dari luar maupun dari dalam diri. Dalam setiap pelaksanaan badudus, biasanya selalu disiapkan sesaji atau piduduk, berupa kue 41 macam, bubur merah, bubur putih, kopi, dan lain sebagainya.

 

Bagian penting dan paling inti daru proses badudus sendiri adalah dibacakannya syair yang dulu dilantunkan oleh Syekh Abdul Jalil atau yang lebih dikenal dengan nama Datu Sanggul. Syair tersebut judulnya Syair Saraba Ampat.

 

“Syair Saraba Ampat dilantunkan pada saat Datu Sanggul sedang duduk sendiri atau pada saat beliau menunggu binatang buruan. Dari kisah orang-orang di Desa Tatakan, apabila Datu Sanggul membaca syair ini, binatang buruan akan datang sendiri tanpa harus dikejar,” tulis Ganda.

 

Usai badudus, calon penari gandut harus Batimung atau sauna tradisional urang Banjar. Ritual ini adalah simbol pembersihan diri secara menyeluruh, dimana terdapat sebuah usaha untuk mengeluarkan sesuatu yang bersifat buruk dari dalam diri kemudian diganti dengan kebaikan.

 

Tahapan selanjutnya adalah Bausung. Dalam bahasa Indonesia artinya digendong. Tidak berbeda dengan bausung yang dilakukan oleh pengantin Banjar, bausung calon penari gandut juga diiringi dengan iringan alat musik tradisional seperti suling, sarun, dan babun. Calon penari gandut akan digendong oleh orang yang telah berpengalaman sambil menari.

 

Ritual terakhir adalah Basanding di Ganggulung. Ganggulung merupakan sebuah bangunan tinggi yang terbuat dari pohon pinang. Bangunan ini pada masa dulu digunakan juga sebagai tempat bersanding pengantin. Di ganggulung ini lah calon penari didudukkan sehingga dapat dilihat dan dikenal oleh orang banyak.

 

“Basanding di ganggulung merupakan sebuah cara untuk mengenalkan calon penari gandut kepada orang banyak,” ujar Ganda.

 

Tidak diketahui siapa yang mengarang jenis kesenian tradisional yang satu ini. Dari sejumlah sumber disebutkan, ia bermula dari kesenian kerakyatan yang kemudian masuk ke dalam lingkungan istana.

 

Menurut Suwandono Soenarto dalam Ensiklopedi Musik dan Tari Daerah Kalimantan Selatan, Tari Gandut sudah ada sejak 1850-an. Mula-mula hanya tontonan bagi masyarakat umum. Sekitar sepuluh tahun kemudian, bagandut sudah berkembang menjadi hiburan rakyat.

 

“Sedangkan masa keemasannya diperkirakan sekitar 1960-an sampai dengan 1970-an,” tulisnya.

 

Penulis: A Manaf

 

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.