BANJARBARU – Dinas ESDM Provinsi Kalimantan Selatan pastikan stok gas elpiji 3 kg di Kalsel melimpah dan aman, terutama dari agen ke pangkalan.
Kabar menggembirakan ini disampaikan Kepala Dinas ESDM Kalsel melalui Kepala Bidang Energi, Sutikno, saat dijumpai di ruangannya di Kantor Dinas ESDM Prov Kalsel, Banjarbaru.
Di tengah wabah Covid-19 serta menjelang new normal, papar Sutikno, dari pantauan Dinas ESDM Kalsel terjadi penurunan tingkat mobilitas masyarakat yang menjadikan lebih banyak beraktivitas di rumah. “Sehingga keperluan gas elpiji sudah terpenuhi bagi masyarakat miskin di Kalsel,” katanya.
Sutikno menuturkan, pemerintah telah menetapkan peraturan perundangan tentang pelarangan penjualan elpiji melon, dan pangkalan wajib mendistribusikan kepada masyarakat miskin yang lebih berhak.
“Sedangkan jatah kita oleh Pertamina, baru saya koordinasi setiap bulan kisaran 2,5 juta tabung. Dari penduduk Kalsel sekitar 4 juta, itu kalau dibagi rata-rata 4 tabung untuk tiap 1 KK,” ucapnya.
Sutikno menjelaskan, kebijakan tersebut bermula saat konversi dari minyak tanah ke elpiji, dimana hampir semua masyarakat mendapatkan tabung elpiji termasuk masyarakat menengah.
“Kalau bagi orang miskin seperempat, dalam artian setiap minggu atau bulan diperlukan 250 ribu. Total kuota diberi pemerintah pusat sekitar 86 ribu kiloliter. Kalau ditabungkan menjadi 3 kilo, kisaran 2,5 juta tabung per bulan,” katanya.
Selain itu, terkait masalah kelangkaan elpiji, Sutikno mengatakan sistem distribusi elpiji secara terbuka. “Kami minta Pertamina mendata ulang orang miskin yang betul-betul terdaftar. Dimohon juga ada tambahan satu tabung bagi mereka. Satu kosong satunya bisa terpakai,” ujarnya.
Untuk itu, ia mengimbau masyarakat menegah ke atas jangan menggunakan tabung gas elpiji 3 kg. “Karena itu adalah tabungnya untuk orang miskin. Janganlah kita gunakan hak-hak orang miskin,” pungkasnya.



