Editor: Almin Hatta
BANJARMASIN – Melalui program Masyarakat Produsen Pangan Indonesia (MPPI), Amanah Borneo Park bersama Global Wakaf Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kalimantan Selatan (Kalsel) membeli sebanyak 10 ton gabah dari petani di Desa Binderang, Kecamatan Lok Paikat, Kabupaten Tapin, Rabu (16/09).
Asmuri (47 tahun), salah satu petani yang menjadi penerima manfaat program ini mengaku senang dengan program dari GW ACT Kalsel tersebut.
“Saya terbantu sekali dalam hal pemasaran hasil panen saya. Alhamdulillah, dari hasil panen ini, saya bisa beli bahan bangunan untuk rumah. Selain itu, saya juga menjamin lahan baru sebanyak 16 borong selama 2 tahun,” ujarnya.
Dengan bertambahnya lahan, papar Asmuri, pihaknya akan bisa bercocok tanam lebih banyak, sehingga hasil pertaniannya pun semakin banyak juga nantinya. “Semoga ini semua semakin memudahkan kami para petani,” katanya.
Hal senada disampaikan Ramli. Ketua Gapoktan Sewarga ini menyampaikan terima kasih atas kerjasama yang telah terjalin. Menurutnya, adanya pembelian padi oleh GW ACT, membantu menjaga produktivitas kelompoknya.
Gapoktan Sewarga termasuk memiliki fasilitas lengkap untuk mengolah hasil panen. Mulai dari tempat pengeringan berbasis teknologi, penggilingan, penyimpanan, hingga pengemasan. “Semua tersedia. Namun, selama ini kami masih kekurangan dalam hal pemasaran, sehingga tidak setiap saat Gapoktan berproduksi,” tutur Ramli.
Kepala cabang ACT Kalsel, Zainal Arifin, mengatakan, program MPPI merupakan ikhtiar dari ACT Kalsel bersama Amanah Borneo Park untuk menyiapkan sektor pangan, agar tetap produktif dan berkembang tanpa hambatan. Terutama di masa pandemi Covid-19 yang meyebabkan dampak signifikan terhadap sektor ekonomi yang semakin pincang. Program MPPI juga bertujuan untuk meredam dampak kemiskinan.
“Semua elemen masyarakat harus bisa berkontribusi. Tujuannya, agar peran sosial juga bisa menyeluruh untuk menyentuh masyarakat yang membutuhkan. GW ACT Kalsel bersama Amanah Borneo Park dalam menyikapi ini berupaya untuk menghadirkan program MPPI, solusi untuk perkuat sektor pangan dan sebagai dukungan kepada petani agar tetap meningkatkan hasil produktivitas pertanian,” ujarnya.
Menurut Zainal, dengan 10 ton gabah ini GW ACT Kalsel memiliki stok beras sebanyak 6 ton. Pengadaan beras ini tentu menjadi bentuk lembaga dalam menjaga ketahanan pangan untuk masyarakat di Kalsel. “Semoga semakin banyak pihak yang terlibat dalam program ini kedepannya,” harap Zainal.[]



