Editor: Almin Hatta
MAHASISWA perantauan merupakan salah satu kelompok masyarakat yang paling merasakan dampak pandemi Covid-19. Tetap bertahan di sekitar kampus, tokh perkuliahan tak bisa secara tatap muka juga. Kampus juga sepi, tak ada dosen dan teman. Pilih pulang kampung, takut ketinggalan informasi. Serba salah jadinya.
Tapi Fitri Yanti punya solusinya. Mahasiswa Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo ) jurusan Kesehatan Masyarakat semester tujuh ini memilih keduanya. Libur semester pada Juli lalu, ia memutuskan pulang ke tanah kelahirannya di Kepulauan Bangka Balitung.
“Lumayan bisa melepas rindu dengan orangtua setelah cukup lama terpisah, dan bisa bercanda dengan adik yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD),” ujarnya, dalam bincang-bincang dengan maknanews.com lewat Whatsaap, Kamis (17/9/2020) malam kemarin.
Namun tak lama, Agustus lalu memutuskan kembali ke Yogyakarta, ke tempat kosnya di Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tak jauh dari kampus Unriyo.
“Sewaktu masih libur semester di Bangka Belitung, saya tiba-tiba rindu kampus, rindu teman-teman kos, teman-teman kuliah lainnya, tetangga sekitar tempat kos juga. Maka saya putuskan kembali ke Yogya, 18 Agustus lalu, dan terus bertahan hingga sekarang,” ujarnya.
Menurut Fitri, kondisi Kampus Unriyo hingga sekarang masih aman dari paparan Covid-19. “Jadi kampus tetap buka, tapi yang boleh datang ke kampus hanya orang yang ada kepentingan saja. Misalnya untuk urusan administrasi, dan tentu saja harus mematuhi protokol kesehatan saat mau memasuki area kampus,” ungkapnya.
Tiba kembali di Yogya, ternyata kondisinya tak seperti yang diharapkan. Kosan sepi, Kampus lebih sepi. Maklum protokol kesehatan masih terus diberlakukan. Orang hanya keluar rumah jika benar-benar ada keperluan.
Tapi Fitri bisa memaklumi. Gadis manis berlesung pipit ini bertekad untuk bertahan, sampai nanti kondisinya normal kembali, sampai nanti perkulihan bisa berjalan normal kembali.
“Ya, saya kan memang sengaja memilih kuliah di Yogya ini. Tujuan utamanya tentu saja menuntut ilmu ,menambah pengalaman dan pengatahuan. Tapi di sisi lain, saya juga ingin merasakan gimana rasanya tinggal di tempat orang, di kampung orang, jauh dari keluarga dan orangtua,” ujarnya.
Meski demikian, Fitri, sebagaimana mahasiswa pada umumnya, ingin kuliahnya cepat selesai, ingin mendapat gelar sarjana. “Dan setelah itu, mudah-mudahan bisa cepat dapat kerja, membuat bangga orangtua, pengen buat bangga orang sekampung, dan yang terpenting apa yang kita lakukan bermanfaat bagi banyak orang, bagi bangsa Indonesia,” katanya.
Sekarang Fitri sedang menggarap skripsi. Meski harus dikerjakan dengaan sistem daring, ia berharap semuanya bisa berjalan lancar, dan bisa segera selesai. Dan ada satu impiannya.
“Ya, saya berharap, bahkan sangat berharap, nanti wisudanya tidak dilakukan secara jarak jauh. Tapi disiwisuda secara langsung, sebagaimana keadaan normal dulu. Sehingga kedua orangtua saya, adik saya, bisa datang, bisa hadir, bisa menyaksikan langsung ketika saya, anak mereka ini, diwisuda sebagai tanda sudah berhasil meraih gelar sarjana. Itu harapan saya, semoga…,” ujarnya.
Untuk sementara ini, Fitri berharap pandemi Covid-19 segera berakhir dan selesai. “Saya pingin sekali kembali belajar di kampus, seperti biasa, main-main sama teman-teman. Rasanya sudah kangen kumpul-kumpul sama teman-teman, sama canda tawa ceria mereka,” tutupnya.[]



