Editor: Almin Hatta
PANDEMI Covid-19 yang melanda seantero dunia sejak Januari 2020 lalu, benar-benar telah mengubah pola kehidupan. Pada sektor pendidikan misalnya, kegiatan belajar-mengajar yang tadinya tatap muka, terpaksa harus dilakukan secara online alias sistem daring (dalam jaringan). Sistem ini berlaku menyeluruh, mulai dari jenjang SD hinggga perguruan tinggi.
Semua sekolah, termasuk kampus, pun ditutup. Karenanya, mahasiswa dari Kalimantan yang kuliah pada perguruan tinggi di Pulau Jawa, rata-rata memilih pulang kampung.
Itu pula pilihan yang diambil Eoudia Angelina. Mahasiswi Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo), bidang studi Kesehatan Masyarakat semester tujuh yang akrab disapa Nina ini, sejak Maret lalu memilih pulang ke kampung halamannya di Desa Jaar, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur (Bartim), Kalimantan Tengah.

Nina mengaku rindu dengan kehidupan kampus yang serius ketika mengikuti perkuliahan, namun santai dan ceria ketika bercengkerama dengan teman-teman. “Semua itu hilang sejak beberapa bulan lalu hingga sekarang, dan karenanya membuat rindu terhadap teman-teman serasa sudah tak tertahankan,” ujarnya.
Tapi, karena keadaan yang mengharuskan demikian, Nina mengaku menerima keadaan ini. Ia tetap semangat mengikuti perkulihan sistem jarak jauh secara online.
“Apa boleh buat, kita harus menuruti imbauan pemerintah dengan menjalankan protokol kesehetan. Kita harus kuliah dari rumah, kita juga harus memakai masker tutup mulut dan hidung ketika beraktivitas di luar, agar terhindar dari Virus Covid-19,” katanya.
Nina mengungkapkan soal perkuliahan, kalau misalnya siang hari diberi dosen soal pelajaran, maka ia biasanya memberi jawaban sampai malam. “Ya, kan terkadang di tempat kita tinggal terkendala masalah jaringan internetnya. Tapi semua itu sudah dipahami oleh dosen di masa Covid-19 ini, jadi tak masalah,” ujarnya.
Menurut Nina, cukup banyak mahasiswa Unriyo yang berasal dari Bartim. “Kita bahkan ada perkumpulannya. Namanya Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa (IKPM) Bartim,” ucapnya.
Mengenai bantuan paket kuota dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk kuliah jarah jauh ini, menurut Nina semua kampus mestinya dapat. “Tapi, hanya untuk yang benar-benar membutuhkan. Saya sendiri selama 6 bulan ini baru dapat sekali. Untungnya dari kampus juga ada bantuan kuota,” ujarnya.
Selain itu, ungkap Nina, mahasiswa perantauan yang bertahan di Yogyakarta, termasuk rekan-rekannya yang tergabung dalam IKPM Bartim, selama ini mendapat bantuan dari Pemerintah Yogyakarta. “Juga ada bantuan dari Pemerintah Barito Timur untuk mahasiswa IKPM Bartim yang bertahan di Yogya,” katanya.
“Jadi, sebenarnya, masalah kuliah meski pun harus lewat daring dan kerap ada kendala, tak apa-apa. Perkuliahan tetap berjalan. Namun itu tadi, rindu kampus, rindu teman-teman kuliah, ah rasanya sudah tak tertahankan,” ujarnya, menutup pembicaraan.[]



