Editor: Almin Hatta
TAMIYANGLAYANG – Sudah sekian bulan terakhir kegiatan belajar-mengajar harus dilaksanakan secara daring, sebagai solusi untuk memutus matarantai pandemi Covid-19.
Untuk itu dibutuhkan kerjasama antara pihak sekolah atau guru dengan orangtua murid serta siswa itu sendiri, agar pembelajaran secara online bisa berlangsung dengan baik dan lancar.
Masalahnya, di wilayah Indonesia yang sedemikian luasnya ini tak semuanya terjangkau jaringan internet. Setidaknya, tak semuanya mendapatkan akses internet dengan baik.
Setidaknya, demikianlah antara lain yang menjadi kendala pada sistem pembelasan secara daring yang dilakukan SMK Negeri 1 Tamiang Layang, Kabupaten Bariro Timur.
“Kendala yang paling dirasakan adalah jaringan internet. Sebab, banyak siswa kita yang tempat tinggalnya jauh dari jaringan internet,” kata Drs H Mulyadi, Kepala SMK Negeri 1 Tamiang Layang, Rabu (21/10/2020) kemarin.
Contohnya, papar H Mulyadi, siswa yang tinggal di Desa Serapat, Desa Karang Langit, Desa Pasar Panas, Desa Bentot, dan Desa Hayaping.
“Karena jaringan internet di desa-desa tersebut kurang lancar, maka komunikasi otomatis menjadi tidak lancar juga,” ujarnya.
Karena itu, lanjut H Mulyadi, kegiatan belajar-mengajar menjadi terkendala. Materi yang disampaikan guru terkadang tak bisa diserap dengan baik oleh para siswanya.
“Begitu pula mengenai tugas yang diberikan guru, terkadang siswanya malah tidak tahu,” katanya.
Rabu kemarin, SMK Negeri 1 Tamiang Layang yang terletak di Desa Matabu ini melakukan kegiatan pembagian rapor PPS (Penilaian Pertengahan Semester) kepada siswanya.
“Pembagian rapor ini kita lakukan tiga bulan sekali, sebagai evaluasi, sejauh mana siswa itu menguasai pembelajaran. Jadi kita bagikan hasil belajar anak-anak didik kita melalui rapor tersebut. Ini merupakan hasil atau nilai setiap jurusan,” katanya.
Menurut Mulyadi, nilai rapor tersebut merupakan hasil rapat dewan guru dan walikelas. “Dari rapat itu diketahui pula apa-apa kendala yang dialami dalam kegiatan belajar-mengajar di masa Covid-19 ini. Termasuk, dampak dari belajarnya lewat daring dengan menggunakan internet ini,” ujarnya.
Karena merupakan sekolah kejuruan, tentunya ada kegiatan praktek yang harus dilakukan di sekolah. Mengenai hal ini, H Mulyadi mengutif penjelasan Menteri Pendidikan yang membolehkan siswa datang ke ke sekolah untuk melaksanakan peraktek.
“Praktek ini kita lakukan dengan menyediakan sarana protokol kesehatan. Selain itu, tidak boleh banyak siswanya. Juga diatur caranya. Misalnya siswa jurusan otomotif, ya harus datang ke sekolah, karena peralatannya hanya ada di sekolah. Begitu juga jurusan mesin. Jadi, ya kita atur sedemikian rupa, sehingga pembelajaran tetap terlaksana, dan protokol kesehatan juga bisa kita patuhi bersama,” tutup H Mulyadi.[]



