Jejak Awal Sejarah Tabanio (1)

  • Whatsapp

WILAYAH Tabanio, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan memiliki catatan sejarah panjang. Daerah yang awalnya hanya kampung kecil di sekitar Sungai Tabanio di pantai selatan Borneo, muncul sebagai wilayah penghasil lada, menjadi wilayah perdagangan Inggris hingga basis perjuanagn di masa Revolusi fisik di banua.

 

Terinspirasi jejak eksistensi Tabanio, Dinas Perpustakaan & Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Tanah Laut bersama Komunitas Sarekat Sejarah Tanah Laut menggelar Seminar Sejarah bertema “Jejak Sejarah Tabanio” Rabu, 17 Maret 2021 lalu di Aula Lantai 2 Dispusip Tanah Laut.

 

Pada Seminar ini menghadirkan pembicara Mansyur, S.Pd., M.Hum. dari Universitas Lambung Mangkurat dan Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan. Dihadiri Kepala Dispusip Tanah Laut, Drs. A.M. Rhoedy Erhansyah dan Camat Takisung, Tanah Laut, Yudo Restanto, S.Stp, MIP. Kemudian undangan dari para guru sejarah, masyarakat serta pemerhati sejarah Tanah Laut.

 

Jejak Awal Sejarah Tabanio (1)

 

Seminar sejarah yang baru pertama kalinya diadakan di Pelaihari, Tanah Laut ini digagas Kabid Perpustakaan Dispusip Tanah Laut, Andra Eka Putra dan Ketua Sarekat Sejarah Tanah Laut, Hanafiyanor Tajelli, S.Pd. Kolaborasi ini menghasilkan kesepakatan untuk mengenalkan catatan sejarah Tanah Laut untuk masyarakat sehingga melek sejarah daerahnya.

 

Dalam seminar mengemuka bahwa pada abad ke-17, posisi wilayah Kesultanan Banjarmasin (Kesultanan Banjar), sangat menguntungkan bagi aktifitas perdagangan. Cukup strategis karena berada di tepi Laut Jawa dan Selat Makassar yang menjadi jalur perdagangan Nusantara. Karena itulah Idwar Saleh (1970) menyimpulkan Pelabuhan Tatas yang terletak di Sungai Martapura, anak Sungai Barito, maupun wilayah Tabanio di pesisir Laut Jawa ramai disinggahi kapal dagang yang melewati jalur tersebut.

 

Perdagangan lada mewarnai corak tumbuh dan berkembangnya kesultanan di tenggara Borneo (Kalimantan) ini. Orang Banjar yang pada mulanya bertani dan bercocok tanam padi, mengubah usahanya dengan berkebun lada, terutama yang tinggal di daerah-daerah potensial untuk tanaman lada, seperti Tabanio, Pelaihari, Pengaron, Alai, Buntok dan sebagainya.

 

 

Dari beberapa wilayah Kesultanan Banjar yang menjadi penghasil lada, tercatat satu wilayah yakni Tabanio yang kemudian muncul menjadi area berpotensi ekonomi tinggi. Daerah yang awalnya hanya kampung kecil di sekitar Sungai Tabanio di pantai selatan tidak hanya menjadi penghasil lada, tetapi memiliki komoditas perikanan melimpah.

 

Disamping itu, keberadaan tambang emas di daerah Pelaihari menambah nilai penting keberadaan Tabanio. Wajar jika pada tahun 1664, Noorlander (1935) menuliskan East India Company (EIC)-Inggris berusaha mengadakan hubungan dagang dengan Sultan Banjar keempat, Sultan Mustainbillah (1650-1678) dan diijinkan berdagang di area Tabanio.

 

Keberadaan Tabanio turut mendorong perkembangan wilayah Pelabuhan Tatas sebagai pelabuhan perdagangan di Banjarmasin. Wilayah Tabanio, yang terletak di tepi pantai berfungsi sebagai pintu gerbang pedagang luar yang ingin berdagang ke Banjarmasin. Keberadaan Tabanio pada kurun waktu tersebut, sebagai wilayah terbuka yang mudah diakses menjadikan area ini markas bajak laut. Walaupun demikian, karena wilayahnya strategis, tidak menyurutkan minat Armada East India Company (EIC)-Inggris menancapkan kuku hegemoni dan basis perdagangannya di Tabanio.

 

Dalam beberapa sumber Hindia Belanda, terdapat beberapa ejaan penulisan nama wilayah Tabanio. Diantaranya adalah tabenieuw, taboenieuw, tabanieuw hingga tomborneo. Nama Tabanio juga digunakan untuk menamai sungai yang mengalir di daerah ini. Pada tahun 1704, dalam pencarian lahan untuk membangun sebuah pabrik yang dilengkapi pertahanan, Banjar Council (Dewan Banjar) atas nama Kesultanan Banjar menyarankan kepada Armada East India Company (EIC)-Inggris membangun pabrik dibangun di Tomborneo (Tabanio), sebuah wilayah kecil di luar Teluk Banjar, yang berlimpah ikan, ternak dan kayu. Tabanio jarang ditempati penduduk karena reputasinya sebagai tempat yang sering dikunjungi bajak laut, tetapi area tersebut dianggap sebagai sebuah pilihan yang ideal.

 

Kepentingan Inggris di Tabanio bukan hanya karena pertimbangan daerah ini penghasil lada. Pada wilayah ini juga penghasil ikan, buah dan air minum melimpah. Karena itu Tabanio diklaim sebagai wilayah strategis untuk menghalangi bajak laut dan penyelundup yang telah membangun markasnya di sana.

 

Seperti dilansir Goh Yon Fong (2013), pada sisi lain, wilayah tersebut terdiri dari dataran rendah, dan sering mengalami banjir periodik selama musim hujan, sehingga daerah tersebut harus dikeringkan. Sayang, pihak Inggris memutuskan untuk membangun Benteng di wilayah Banjarmasin dan batal membuka pabrik di Tabanio. Persoalannya, jumlah pekerja yang tersedia di Kesultanan Banjar terbatas, kemudian perlu banyak peralatan, gudang dan lain lain.

 

Dalam perkembangan selanjutnya, akhirnya Inggris berhasil merealisasikan pembangunan sebuah alat pembakaran di Tabanio memproduksi batu bata yang dibutuhkan untuk beragam pembangunan pabrik. Sayang, terdapat permasalahan besar menimpa Inggris yakni kelangkaan kayu dan persediaan beras. Meskipun Dewan Banjar yang mewakili Kesultanan Banjar mendapatkan sejumlah kecil kayu untuk pabrik Inggris dari wilayah Tabanio, cuma sebagian besar masih harus mengangkut dari Jawa.

 

Pada penghujung abad ke-17, pergolakan dan pertikaian terjadi di Kesultanan Banjar. Karena itulah pemimpin Inggris, Griffith merasakan bahwa beberapa langkah berjaga‐jaga penting untuk memastikan keamanan Inggris dalam pertikaian yang terjadi. Salah satu langkahnya, pengaturan kembali pasukan-pasukan dari Makasar yang ada di Banjar.  Beberapa diantaranya ditugaskan ke Tabanio mengamankan kepentingan Inggris disana sementara pasukan lainnya menjaga pabrik di wilayah Banjar.  (bersambung)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.