Almin Hatta
AKU mengenal beberapa orang yang hampir tak pernah melaksanakan ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan, apalagi puasa sunat di bulan lain. Menariknya, alasan mereka selalu sama. Yakni tak kuat menahan haus dan dahaga.
“Kalau lapar sih tak apa-apa, tapi hausnya itu yang aku benar-benar tak kuat menahannya,” begitu kata mereka.
Agaknya, soal haus ini memang menjadi godaan terbesar dan paling utama terhadap orang yang mengerjakan puasa. Buktinya, ketika tiba waktu berbuka, tak sedikit orang yang serta-merta menenggak minuman sedemikian banyaknya. Bahkan ada yang menyediakan berbagai macam minuman untuk berbuka, dan semuanya ditenggak habis saat berbuka. Seolah-olah haus dan dahaga yang menderanya sejak fajar hingga maghrib tiba ingin dibayar tuntas seketika. Akibatnya, tubuhnya mendadak jadi berat, dan kemudian tak kuat melaksanakan ibadah lainnya.
Kita semua tahu, air atau minuman adalah kebutuhan paling mendasar bagi semua orang. Seberapa banyak pun seseorang memiliki harta, seberapa tinggi pun tumpukan emas-permata yang ada padanya, tak akan ada artinya sama sekali kalau ia tak memiliki air. Sebab, tanpa air, kehidupan tak akan bisa dilanjutkan. Itulah sebabnya kalau kita memelihara bunga harus rajin-rajin menyiraminya.
Jadi, air sebenarnya adalah perlambang dari segenap kebutuhan hidup seluruh makhluk di dunia, termasuk manusia tentunya. Dan sesungguhnya di sekeliling kita begitu banyak orang yang kehausan. Tak cuma lantaran sedang mengerjakan puasa, tapi lantaran tak berpunya. Bukan cuma tak memiliki air, tapi kekurangan makanan lainnya. Dan kita seringkali tak menyadarinya.
Mungkin karena itulah Allah SWT menyindir kita. Sebagaimana diriwiyatkan Abu Hurairah, Rasulullah SAW melalui hadist qudsi bersabda: Allah Azza wa Jalla akan berkata pada Hari Kiamat, “…Wahai manusia, Aku meminta minum kepadamu, namun kamu tidak memberinya!” Manusia bertanya, “Bagaimana aku memberi minum kepada Engakau, padahal Engkau adalah Tuhan seluruh alam?” Allah berkata, “Hamba-Ku, si anu meminta minum kepadamu, namun kamu tidak memberinya. Bukankah kamu tahu bahwa jika kamu memberinya minum, maka kamu menemukan dia berada di sisiku-Ku?”
Hadist tersebut jelas menggambarkan, Tuhan Yang Maha Kaya itu sempat mengaku kehausan lantaran kita manusia ini kerap tak peduli kepada sesama yang kekurangan. Maka, lewat puasa yang mendatangkan lapar dan dahaga, kita diharapkan menyadari betapa sakitnya hidup orang tak berpunya. Bayangkan, Allah Maha Kaya yang sejatinya tak pernah kekurangan apa pun bahkan sampai menyindir manusia dengan ‘mengaku’ ikut kehausan pula.***



