Editor : Almin Hatta
BANJARMASIN – Bertepatan dengan momen Hari Raya Idul Fitri 1442 H kemarin, salah satu kecamatan di Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) didera bencana banjir.
Bencana ekologis banjir kedua yang kembali terjadi di Kalimantan Selatan (Kalsel) ini Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel bereaksi tegas.
Direktur Walhi Kalsel, Kisworo Dwi Kuncoro, menyatakan turut berduka atas musibah banjir yang menimpa warga di Kecamatan Satui, Kabupaten Tanbu.
“Pertama tentu turut berduka atas bencana ekologis yg salah satu berupa banjir yang masih terjadi di Kalsel, dan sekarang menimpa saudara kita di Satui,”ucapnya.
Menurut Kisworo, sampai saat ini pemerintah masih lalai dalam penanggulangan serta penanganan bencana banjir yang terjadi di Kalsel.
“Lambat dan gagap dalam penanggulangan bencana banjir,” ujarnya.
Padahal, papar Kisworo, penanganan bencana banjir di awal tahun yang melanda hampir 11 kabupaten/Kota di Kalsel masih belum selesai. Baik itu pada saat pra banjir maupun pasca banjir.
Kisworo menyebut, dari data yang dihimpun Walhi terbukti bahwa daya tampung sungai dan daya dukung lingkungan sudah rusak, baik hulu maupun hilirnya telah rusak.
“Saya selaku perwakilan Walhi sudah sering peringatkan bahwa Kalsel ini dalam posisi darurat ruang dan darurat bencana ekologi. Daya tampung dan daya dukung lingkungan juga sudah rusak,” tegasnya.
Tidak hanya menyoroti bencana banjir yang terjadi di Kalsel, Walhi juga menyoroti beberapa permasalahan lingkungan yang selalu menjadi momok menakutkan setiap tahun.
“Selain konflik agraria, kalau hujan deras bisa jadi banjir, terus kalau kemarau ada karthula. Selalu terulang setiap tahun, dan rakyat selalu jadi korban,” katanya.
“Lalu, kapan Kalsel membangun,” imbuh Kisworo.[]



