Kompromi dengan Pancasila; Benang Merah Orasi Soekarno di Amuntai

  • Whatsapp
Kompromi dengan Pancasila; Benang Merah Orasi Soekarno di Amuntai
Sumber foto: koleksi Arsip Kabupaten Hulu Sungai Utara.

PADA awal tahun 1953 gerakan Kesatuan Rakyat yang Tertindas (KRyT) pimpinan Ibnu Hadjar meningkatkan kegiatannya. Gerakan yang oleh pemerintah pusat era itu dicap sebagai “pemberontak” beroperasi antara wilayah Kandangan dan Barabai. Markas besarnya di Gunung Hantu, sekitar Desa Datar Laga, dekat Barabai dan tidak jauh dari Kandangan. Pada mulanya gerakan bersenjata ini mengakui sebagai bagian dari DI/TII Kartosuwiryo yang dimulai pada Oktober 1950.

Dalam kondisi tengah berkecamuknya aktivitas KRyT dan upaya Gubernur Kalimantan dr. Moerdjani melakukan aksi militer, pada akhir Januari 1953 Presiden Soekarno berkunjung ke Kalimantan. C. Van Dijk, dalam tulisannya “Darul Islam Sebuah Pemberontakan”, menuliskan tujuan Soekarno dalam rangka pemeriksaan daerah-daerah “pusat kekacauan” di Indonesia.

Bacaan Lainnya

Adapun wilayah wilayah yang dikunjungi mulai Banjarmasin, Martapura, Kandangan, Negara, Barabai hingga Amuntai. Agenda utama adalah kedudukan Islam dalam masyarakat dan masalah hangat apakah Indonesia akan menjadi negara Islam atau tidak. Beserta kondisi keamanan yang merupakan tema utama pidato-pidato Soekarno dalam lawatannya.

Presiden Soekarno melihat dengan matanya sendiri akibat-akibat pemberontakan KRYT saat melakukan perjalanan dari Martapura ke Kandangan. Bahkan di daerah Kandangan, beberapa pemberontak menghentikan sebuah truk tentara. Kemudian membakarnya  tak lama sebelum kedatangan Soekarno. Kerangka truk yang hangus itu belum dapat dipindahkan ketika Soekarno lewat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *