Ekosistem Seni Pertunjukkan di Banjarmasin dalam BAW 2023

Diposting pada

Oleh: Aminuddin

Hal ini bermula dari berbagai event pasca covid, sebut saja Festival Teater Gardu, Aruh Teater, STIGMA, Pertunjukan Luar Gedung, Festival Teater Modern, dan beberapa pergelaran tunggal yang telah dipentaskan di TBKS dari berbagai komunitas Teater di Banjarmasin. Di berbagai event tersebut terjadi beberapa peristiwa yang menarik untuk dikaji lebih mendalam dari hasil berbagai macam diskusi pinggiran, setidaknya ada 15 komunitas teater yang terdiri dari teater kota, teater kampus dan pelajar, yang membagikan kegelisahan dan permasalahannya dalam diskusi saat itu, dan juga dalam kesempatan saat pelaksanaan BAW 2023 yang baru berakhir beberapa hari yang lalu.

Kumarau Landang yang diusung sebagai tematik dalam BAW 2023 barangkali sebenarnya menjadi tidak sejalan dengan keanekaragaman event yang telah diselenggarakan oleh berbagai komunitas di Banjarmasin pasca covid ini. Namun ketika kita menyelami lebih dalam ke setiap unsur di dalam setiap event kita akan menemukan sisi kronis yang ku sebut sebagai Kumarau itu akan mewujud nyata. Sebelum terjadi kemacatan teater, sebelum teater kehilangan kemampuan untuk melahirkan peristiwa teater, yang memberikan sumbangan spiritual pada perkembangan budi daya manusia. Teater akan menjadi hiburan murni yang memperbodoh manusia seperti bermacam-macam racun yang dilahirkan oleh kegiatan pasar. Akhirnya panggung hanya akan menjadi kuburan seniman teater dan kehilangan penontonnya.

Teater masih memiliki prajurit-prajurit sukarelawannya, teater juga masih memiliki penonton setianya, yang masih mengharapkan sebuah Fajar sebagai sebuah harapan suatu saat nanti akan kembali menjadi sehat dan tidak sakit-sakitan. Untuk hal itu sebagai bentuk ikhtiar dan langkah pertama untuk menuju Fajar tersebut dalam momentum BAW 2023, saya menginisiasi diskusi seni mengenai Ekosistem Seni Pertunjukan di Banjarmasin dan menawarkan sebuah alternatif jawaban terhadap masalah ataupun kegelisahan yang terjadi di komunitas ataupun proses-proses mereka, dengan workshop Manajemen Seni Pertunjukan.

Kegundahan Komunitas Teater

Permasalahan dan kegundahan tersebut pada dasarnya semua berkutat dalam tataran permasalahan mendasar, yang entah bagaimana akhirnya malah lebih banyak menguras energi mereka dalam proses produksi. Hal ini juga akhirnya menjadi penyebab, banyak hal-hal esensial lainnya menjadi terabaikan. Di situasi kronis ada beberapa orang yang malah menjadi bingung dengan dirinya sendiri karena kehilangan motivasi ataupun disebabkan hal lainnya yang sudah menggurita di benaknya. Terdengar aneh namun inilah realita yang saya temukan di lapangan dalam beberapa waktu lalu.

Manajemen Seni Pertunjukan itu adalah metode bantu untuk menjaga, meringankan dan memberikan kejelasan dalam proses produksi ataupun penciptaan karya. Ada lima point yang menjadi inti dari Manajemen Seni Pertunjukan tersebut yang mana seringkalinya dari kelalaian terhadap lima poin ini permasalahan-permasalahan mulai lahir dan tumbuh, lima poin tersebut sebagai berikut:

  1. Menentukan tujuan produksi (internal & eksternal).
  2. Menentukan naskah dan sutradara.
  3. Menganalisis naskah dan melakukan riset.
  4. Menciptakan karya.
  5. Mengevaluasi proses produksi dan pentas.

Pada kesempatan workshop di beberapa waktu yang lalu, terjadilah diskusi dari beberbagai macam pertanyaan yang akhirnya memberikan kesepakatan bahwa berkarya itu tidak sebatas antara sutradara, aktor, dan artistik saja. Semua nama ataupun jabatan yang ada di dalam struktur badan produksi memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk turut berkarya menjadi satu kesatuan yang harmonis dan padu, hal itulah yang disebut karya secara utuh. Karena setiap unsur dalam struktur badan produksi harus memiliki keterhubungan yang jelas dan akhirnya juga akan menghindari terjadinya kebingungan-kebingungan setiap orang yang datang ketempat latihan atau bingung akan dirinya sendiri dalam proses produksinya.

Seni Pertunjukan Banjarmasin Pasca Covid

Bagi saya, “teater itu adalah kemajmukan dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang mencoba menciptakan potret-potret emosional dari kehidupan manusia”. Pada hakikatnya kesenian itu bermula dari masyarakatnya yang kemudian disajikan dan dikembalikan kepada masyarakat itu sendiri. Artinya, penting untuk para pelaku pertunjukan untuk mendekatkan diri ke masyarakat secara luas, bukan menghibur diri dengan keelokan-keelokan artistik yang akhirnya mejadi terlalu sibuk dengan diri sendiri dan melahirkan kepuasan atas capaian-capaian yang hanya menyentuh permukaan (eksistensi) namun melupakan hal-hal esensial  yang sebenarnya perlahan membunuh dirinya sendiri, karena menjadi jauh dan asing dengan masyarakat penontonnya sendiri. Peristiwa teater itu tidak sesempit apa yang terjadi di atas panggung, namun mencakup kepada hal yang lebih luas. Narasi-narasi yang diperbincangkan dan menjadi semua perenungan dan masukan terhadap sanubari setiap masyarakat penontonya.

Jika menyadari bagaimana keadaan-keadaan yang terjadi terhadap rekan-rekan di berbagai komunitas sebagai sebuah bentuk dari keadaan suatu ekosistem kecil. Tentu seharusnya dalam ranah ekosistem besarnya, semua struktur maupun lini dari tatanan pengayom baik dari pemerintah setempat ataupun Dewan Kesenian sebagai pendukung dan fasilitator dan antar tatanan sesama komunitas-komunitas seni di Banjarmasin harus memiliki kebersamaan dan kesepakatan terhadap “bagaimana arah kesenian kita? Dan bagaimana etika dan seharusnya kesenian diperlakukan?”. Hal ini menjadi fundamental untuk dibicarakan agar menemukan kesepakatan-kesepakatan agar semuanya menjadi mempunyai kejelasan dan memiliki harapan yang cerah. Semua kesenian itu memiliki kedudukan yang sama dan tidak ada kesenian yang berhak untuk dikerdilkan, hal ini sejalan dengan semangat dan visi dari pelestarian dan pembertahanan kesenian di setiap daerah agar tidak ada lagi kesenian yang punah ataupun generasi penerus yang asing dengan keseniannya sendiri.

Ekosistem ini tidak bisa diserahkan kepada satu lini saja, semua memiliki kewajiban untuk ikut andil dan berperan dalam pembenahan dan menjaganya. Semuanya memiliki sumbangsih dalam perkembangan yang kemudian menjadi sebuah peradaban yang sehat. Karena akan menjadi sebuah kesia-siaan jika semuanya tidak saling bahu membahu, para seniman juga tidak akan menemukan kebaharuan dan kesegaran jika tidak mendapatkan dukungan-dukungan ataupun fasilitas yang memadai, pun juga sebaliknya, instansi pemerintahan, pendidikan, dan dewan kesenianpun juga tidak akan mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi dengan jelas untuk peradaban (banua), jika kita tidak bisa menemukan kesepakatan bersama itu sampai kapanpun kita akan selalu menjadi pincang dan akan kembali ke permasalahan yang sama, sebuah zona stagnansi yang entah sampai kapan mengharapkan Fajar datang.

Kesepakatan yang ditarik dalam pertemuan diskusi seni Ekosistem Seni Pertunjukan di Banjarmasin dalam perhelatan BAW 2023, kita harus melakukan pembenahan terhadap diri sendiri terlebih dahulu dan terhadap ekosistem-eksositem kecil yang kita miliki hingga akhirnya semuanya menjadi masif dan kita akhirnya memiliki kesempatan untuk duduk bersama agar bisa menemukan kesepakatan terhadap ekosistem yang besar. Sampai saat ini kesenian Banjarmasin masih menunggu Fajar sebagai sebuah harapan.

 

Kurator Seni Pertunjukan BAW 2023

Banjarmasin, 21 November 2023

Aminuddin, S. Pd., M. Sn.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *